Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

  • Kalender

    Juli 2016
    S S R K J S M
    « Feb    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • Kategori

PENJELASAN GEMPABUMI SUMBA 12 FEBRUARI 2016

Posted by Daryono pada Februari 12, 2016

PENJELASAN GEMPABUMI SUMBA BARAT 12 PEBRUARI 2016

Hari Jumat, tanggal 12 Pebruari 2016, pukul 17.02.24 WIB wilayah Pulau Sumba diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=6,6.

Pusat gempabumi terletak pada koordinat 9,77 lintang selatan dan 119,34 bujur timur, tepatnya di lepas pantai, pada jarak 14 km arah baratdaya Sumba Barat pada kedalaman hiposenter 60 kilometer.

Guncangan gempabumi ini dirasakan dalam skala intensitas V-VI MMI di Waikabubak Sumba Barat, III-IV MMI di Bima, II-III MMI di Denpasar, dan III MMI di Dompu dan Mataram. Skala intensitas di Sumba Barat sebesar V-VI MMI ini merupakan hasil pemodelan peta tingkat guncangan (shakemap), karena wilayah Sumba Barat saat ini belum dapat dihubungi melalui telfon. Dengan nilai intensitas gempabumi V-VI MMI ini diperkirakan terjadi kerusakan pada bangunan yang tidak standar. Namun demikian hingga saat ini belum ada laporan kerusakan sebagai dampak gempabumi karena sulitnya komunikasi di daerah gempabumi.

Gempabumi yang terjadi ini merupakan jenis gempabumi interplate dengan hiposenter menengah akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh sebuah aktivitas sesar naik (thrust fault). Data parameter sesar menunjukkan nilai Strike= 97, Dip=61, dan Slip= 99. Nilai ini menggambarkan adanya sebuah pola penyesaran yang berarah barat-timur.

Jika kita tinjau hiposenter gempabumi ini pada peta tektonik setempat, tampak bahwa sumber gempabumi ini terletak di zona transisi antara zona megathrust ke zona Benioff, dari zona penyusupan lempeng landai menuju zona penyusupan lempeng curam di lepas pantai selatan Sumbawa Barat.

Hingga saat ini sudah terjadi 2 kali gempabumi susulan (aftershocks) dengan kekuatan M=3,9 dan M=3,3. Berdasarkan data gempabumi susulan ini tampak bahwa kekuatan gempabumi susulan semakin mengecil.

Berdasarkan data parameter magnitudo dan kedalaman hiposenter gempabumi ini, serta modeling tsunami yang dilakukan, menunjukkan bahwa gempabumi tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Untuk itu, masyarakat pesisir Sumba dihimbau agar tetap tenang.***

Dr. Daryono, S.Si.,M.Si.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG
Twitter: @daryonobmkg

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI KEPULAUAN TALAUD, 12 JANUARI 2016

Posted by Daryono pada Januari 12, 2016

Hari Selasa, tanggal 12 Januari 2016, pada pukul 00.38.08 WITA, wilayah Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=6,3 (hasil pemutakhira data). Pusat gempabumi ini terletak pada koordinat 3,80 lintang utara dan 126,97 bujur timur, tepatnya di laut pada jarak 58 kilometer arah tenggara Kepulauan Talaud, pada kedalaman hiposenter 60 kilometer (hasil pemutakhira data). Guncangan gempabumi ini dirasakan di Melonguane dalam skala intensitas III-IV MMI. Gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi hiposenter dangkal akibat aktivitas tumbukan lempeng tektonik. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi yang terjadi memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault). Jika kita memperhatikan letak episenter gempabumi, tampak bahwa pusat gempabumi yang terjadi berasosiasi dengan aktivitas tekan (kompresi) akibat dorongan Lempeng laut Philipina dari arah timur. Sementara itu, dari arah barat Lempeng Eurasia menekan ke timur secara relatif pada zona Sangihe. Akibatnya timbul zona kompresi di bagian tengah yaitu kawasan Kepulauan Talaud dan sekitarnya. Implikasi sistem tektonik ini menjadikan aktivitas seismisitas di Kepulauan Talaud dan sekitarnya sangat dominan dan terjadi pada kedalaman dangkal kurang dari 60 kilometer. Sistem tektonik tersebut di atas mengakibatkan sebagian besar aktivitas gempabumi yang terjadi memiliki mekanisme sumber berupa sesar naik yang merupakan  ciri gempabumi hasil tumbukan lempeng (plate colission). Sehingga relevan jika mekanisme sumber gempabumi yang terjadi menunjukkan penyesaran naik. Hingga pagi ini dilaporkan telah terjadi gempabumi susulan sebanyak 12 kali, dengan kekuatan yang lebih kecil dari gempabumi utamanya. Berdasarkan data magnitudo gempabumi susulan menunjukkan tidak ada potensi akan terjadi gempabumi dengan kekuatan yang lebih besar. Sehingga masyarakat Kepulauan Talaud dihimbau agar tetap tenang mengingat gempabumi yang terjadi tidak berpotensi menimbulkan tsunami.*** Dr. Daryono, S.Si.,M.Si. Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Twitter: daryonobmkg

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI TARAKAN KALIMANTAN UTARA

Posted by Daryono pada Desember 21, 2015

Hari Senin, tanggal 21 Desember 2015, pukul 01.47.37 WIB, sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), seperti Tarakan, Nunukan, dan Tanjung Selor, diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=6,1.

Berdasarkan analisis data gempabumi BMKG, pusat gempabumi ini terletak pada koordinat 3,61 lintang utara dan 117,67 bujur timur, tepatnya pada jarak 29 kilometer arah timurlaut kota Tarakan pada kedalaman hiposenter 10 kilometer. Guncangan gempabumi ini dirasakan di beberapa daerah seperti di Tarakan dan Nunukan IV-V MMI dan di Tanjung Selor III-IV.

Dengan memperhatikan kekuatan gempabumi M=6,1 dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer dan terjadi di daratan, maka potensi terjadinya kerusakan akibat gempabumi ini cukup besar, apalagi zona Nunukan-Tarakan merupakan daerah kepulauan, diantaranya terbentuk sebagai hasil proses sedimentasi pada masa lalu. Tanah lunak di dataran aluvial dapat memicu terjadinya amplifikasi gelombang gempabumi.

Gempabumi yang terjadi merupakan aktivitas kerak dangkal (shallow crustal earthquake) jenis intraplate dengan hiposenter dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Sehingga sangat relevan jika hasil analisis mekanisme sumber gempabumi ini merupakan patahan mendatar (strike-slip fault).

Kondisi tektonik di bagian timur Pulau Kalimantan memang cukup kompleks, sehingga zona ini memang merupakan kawasan paling rawan gempabumi di Pulau Kalimatan. Kerawanan gempabumi di zona ini selain disebabkan oleh adanya beberapa struktur geologi sesar turun dan beberapa struktur sesar mendatar.

Zona Nunukan-Tarakan dan sekitarnya secara tektonik diapit oleh tiga sistem sesar mendatar. Di sebelah selatan terdapat dua sistem sesar yang berarah baratdaya-tenggara, yaitu zona Sesar Mangkalihat (Mangkalihat fault zone) dan zona Sesar Maratua (Maratua fault zone). Zona Sesar Mangkalihat merupakan sesar kelanjutan dari Sesar Palu-Koro, yang melintas dekat kota Tanjung Redep.

Keberadaan zona Sesar Maratua juga tidak kalah penting untuk diperhatikan, karena ujung sesar ini terletak di lautan yang lokasinya berdekatan dengan kota Tanjung Selor. Sementara itu, di sebelah utara Pulau Tarakan juga terdapat zona Sesar Sempurna (Sempurna fault zone) yang melintas dari Laut Sulawesi hingga Sabah Malaysia, dan melintasi kawasan yang berdekatan dengan Pulau Sebatik. Namun demikian, hingga saat ini kita belum dapat memastikan struktur sesar yang membangkitkan gempabumi ini.

Disebabkan oleh karena gempabumi ini memiliki episenter di daratan dengan mekanisme sesar mendatar, maka gempabumi yang terjadi tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Untuk itu masyarakat pesisir Kaltara dihimbau untuk tetap tenang.

Hingga pukul 07.00 WIB dilaporkan sudah terjadi 16 kali gempa susulan. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa kekuatan gempanya semakin mengecil, fluktuatif dalam magnitudo M=3,0 – 4,0. Dengan kekuatan gempabumi susulan paling besar M=4,9.

Memang cukup sulit memprediksi kekuatan gempabumi susulan berikutnya. Tetapi berdasarkan kondisi tektonik lokal, karakter kegempaan, dan sejarah gempabumi setempat, serta trend data magnitudo gempabumi susulan saat ini, maka kami meyakini potensi terjadinya gempabumi dengan kekuatan yang lebih besar sangat kecil.***

Dr. Daryono, S.Si., M.Si.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

 

SEJARAH GEMPABUMI DI PANTAI TIMUR KALIMANTAN

Secara tektonik wilayah timur Kalimantan merupakan kawasan rawan gempabumi. Berdasarkan catatan sejarah gempabumi sejak tahun 1921 menunjukkan bahwa di pesisir timur Kalimantan telah terjadi beberapa kali gempabumi merusak.

Gempabumi Sangkulirang  9 Mei 1921 memiliki intensitas hingga VIII MMI. Gempabumi kuat ini diikuti oleh gelombang tsunami yang mengakibatkan kerusakan beberapa bangunan rumah di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang.

Selanjutnya adalah gempabumi Tarakan 19 April 1923 (M=7,0 SR) dengan kedalaman hiposenter 40 kilometer memiliki intensitas guncangan mencapai VIII MMI. Gempabumi ini menyebabkan banyak kerusakan bangunan rumah dan timbulnya rekahan tanah di Tarakan dan sekitarnya.

Gempabumi kuat di Tarakan juga pernah terjadi pada 14 Februari 1925. Guncangan gempabumi ini dilaporkan mencapai VII MMI dan merusak beberapa banyak bangunan rumah.

 

Tarakan pada 28 Februari 1936 kembali diguncang gempabumi dengan kekuatan M=6,5 SR. Gempabumi ini dilaporkan sangat kuat meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.

Terakhir adalah peristiwa gempabumi dengan kekuatan M=4,7 SR yang mengguncang daerah Paser dan Longikis pada 22 November 2009. Akibat gempabumi ini dilaporkan sejumlah bangunan rumah, gedung sekolah, dan tempat ibadah mengalami kerusakan cukup parah.

Dr. Daryono, S.Si.,M.Si.

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI LAUT BANDA

Posted by Daryono pada Desember 9, 2015

Hari Rabu, 9 Desember 2015, pukul 19.21.49 WIT wilayah Banda Neira, Ambon dan Sorong diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=6,9. Pusat gempabumi ini terletak pada koordinat 3.98 LS,129.56 BT, tepatnya di Laut Banda pada jarak 151 km arah tenggara Kota Ambon, pada kedalaman hiposenter 57 kilometer.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di Banda Neira IV MMI, Ambon III-IV MMI, Amahai II-III MMI, dan Sorong II MMI. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa sebagai dampak gempabumi. Namun demikian guncangan kuat gempabumi ini sempat menciptakan kepanikan di daerah Banda, Nusa Laut, Masohi, dan Tehoru.

Gempabumi yang terjadi merupakan gempabumi hiposenter dangkal (kurang dari 60 kilometer) akibat aktivitas subduksi Seram. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh patahan naik (thrust fault).

Kedalaman Zona Benioff di sekitar Busur Banda tidak melebihi 100 kilometer, kecuali di Seram lebih dangkal yaitu sekitar 70 km sehingga merefleksikan pola gempabumi yang lebih dangkal dengan sudut penunjaman agak landai. Gempabumi merusak yang diakibatkan oleh sistem penunjaman ini antara lain adalah gempabumi Ambon, 28 Maret 1830 dan gempabumi Seram, 28 Mei 1932.

Namun demikian, meskipun gempabumi ini dipicu oleh patahan naik, tetapi karena kekuatannya M=6,9 dengan kedalaman hiposenter 57 kilometer, maka gempabumi ini tidak cukup kuat menciptakan deformasi dasar laut untuk membangkitkan tsunami yang berdampak signifikan. Sehingga dalam hal ini BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami. Hasil pemantauan tsunami gauge di Ambon mengkonfirmasi adanya kenaikan muka air laut hanya setinggi 7 cm, sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap tenang.***

Dr. Daryono, S.Si.,M.Si., BMKG

Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

MEMAHAMI GEMPABUMI SWARM DI HALMAHERA BARAT

Posted by Daryono pada Desember 6, 2015

AKTIVITAS gempabumi yang berlangsung terus menerus di Halmahera Barat, sejak awal November 2015 hingga 5 Desember 2015 masih terjadi. Total aktivitas gempabumi sudah mencapai 1001 kejadian dengan kekuatan kurang dari M=5,0 Skala Richter.

Peta aktivitas gempabumi Halmahera Barat hasil pemutakhiran data hingga 5 Desember 2015 menunjukkan aktivitas seismic terkonsetrasi di daerah Jailolo dan sekitarnya. Aktivitas seismik ini unik, membentuk klaster seismisitas yang berpusat di Gunung Jailolo dan sekitarnya.

Banyak pertanyaan warga yang dilontarkan kepada BMKG mengenai fenomena tingginya aktivitas gempabumi yang membuat cemas masyarakat ini. Untuk menjawabnya, kita perlu mengenali beberapa tipe gempabumi terlebih dahulu.

GEMPABUMI SWARM
Ahli seismologi Jepang, Kiyoo Mogi (1963) mengklasifikasikan gempabumi dalam 3 (tiga) tipe. Gempabumi Tipe I, dicirikan dengan munculnya gempabumi utama (mainshock) yang kemudian diikuti oleh sejumlah gempabumi susulan (aftershocks) dengan kekuatan dan frekuensi kejadian yang terus mengecil.

Gempabumi Tipe II, dicirikan dengan munculnya serangkaian gempabumi kecil sebagai pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempabumi utama dengan kekuatan yang besar, dan selanjutnya diakhiri oleh sejumlah gempabumi susulan dengan kekuatan dan frekuensi kejadian yang terus mengecil.

Gempabumi Tipe III, dicirikan dengan kemunculan serangkaian aktivitas gempabumi bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi, berlangsung dalam waktu lama di suatu kawasan sangat lokal, tanpa adanya gempabumi kuat sebagai gempabumi utama. Aktivitas gempabumi semacam ini oleh Kiyoo Mogi disebut sebagai gempabumi swarm.

Jika kita mengamati perkembangan aktivitas seismik yang sedang berlangsung di Halmahera Barat, maka kita dapat memahami bahwa fenomena yang sedang terjadi merupakan gempabumi tipe III, yaitu aktivitas swarm.

Aktivitas gempabumi yang berlangsung menarik untuk dicermati. Rentetan gempabumi seolah tiada henti ini tidak ada satupun gempabumi kuat yang menonjol sebagai gempabumi utama. Sulit untuk mengenali mana gempabumi pendahuluan, gempabumi utama, dan susulannya, karena magnitudonya memang hampir seragam, kurang dari M=5,0 Skala Richter.

Pada beberapa kasus swarm terjadi di zona gunungapi. Swarm dapat terjadi di kawasan yang mengalami medan tegangan berkaitan dengan desakan aktivitas magmatik. Jika ditinjau kawasan yang dilanda gempabumi, ternyata pusat-pusat gempabumi berkedalaman dangkal ini membentuk klaster yang terkosentrasi di Gunung Jailolo di Bobanehene. Desa Bobanehene adalah kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempabumi.

Gunung Jailolo stratovolcano yang lokasinya di kompleks gunungapi Halmahera, membentuk semenanjung di sebelah barat Teluk Jailolo. Jailolo stratovolcano memang sudah lama tidak mengalami erupsi, tetapi ada bekas aliran lava muda di sisi timurnya.

Selain berkaitan dengan kawasan gunungapi, beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivitas swarm juga dapat terjadi di kawasan non volkanik. Swarm memang dapat terjadi di kawasan dengan karakteristik batuan yang rapuh sehingga mudah terjadi retakan (fractures).

Swarm juga dilaporkan banyak terjadi di daerah dengan batuan penyusunnya heterogen. Kondisi batuan semacam ini memang banyak terdapat di Jailolo. Berdasarkan data geologi, daerah ini memang tersusun oleh material batuan yang bervariasi, seperti batupasir, napal, tufa, konglomerat, dan batugamping.

Banyak kalangan mempertanyakan pembangkit gempabumi swarm ini. Hasil analisis mekanisme sumber terhadap 2 gempabumi signifikan yang terjadi pada 20 November 2015 (M=4,8) dan 1 Desember 2015 (M=4,8), menunjukkan bahwa kedua gempabumi ini dipicu oleh sesar turun (normal fault).

Kedua aktivitas gempabumi ini memiliki mekanisme sumber yang sama yaitu sesar turun dengan Strike=177 dan Dip=53. Berdasarkan data ini dapat diinterpretasikan bahwa terjadi proses depresi lokal di bawah permukaan. Proses rupture berlangsung di bawah permukaan sehingga tidak ada kenampakan morfologi di permukaan.

AKTIVITAS MENURUN
Berdasarkan data gempabumi harian, sejak 21 – 29 November 2015 telah terjadi penurunan aktivitas gempabumi cukup signifikan. Jumlah gempabumi dari 146 gempa per hari (19 November 2015), sudah turun menjadi 1 gempa per hari (29 November 2015).

Namun demikian pada 1 Desember 2015 terjadi peningkatan jumlah gempabumi hingga mencapai 96 gempa per hari. Patut disyukuri bahwa kenaikan aktivitas gempabumi tidak berlanjut, karena pada 2 Desember terjadi penurunan aktivitas gempabumi, hingga pada 5 Desember 2015 hanya terjadi 6 aktivitas gempabumi.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa hingga Sabtu 5 Desember 2015 aktivitas gempabumi masih fluktuatif, namun demikian secara umum terjadi kecenderungan penurunan, baik dalam jumlah aktivitas gempabumi maupun magnitudonya.

Data di atas merupakan cerminan adanya sebuah proses rupture dan release tegangan batuan yang terus berlangsung. Jika tegangan yang tersimpan dalam batuan habis, maka aktivitas swarm tentunya akan berakhir dengan sendirinya.

Bagi kalangan ahli gempabumi, aktivitas swarm merupakan fenomena alam biasa. Namun demikian karena fenomena semacam ini jarang terjadi dan masyarakat belum mengenal, maka wajar jika warga merasa cemas dan khawatir berlebihan.

Aktivitas swarm sudah beberapa kali terjadi di Indonesia, hanya belum didokumentasikan. Pada bulan Februari 2011 di Kampak, Trenggalek, Jawa Timur pernah terjadi serangkaian gempabumi berkekuatan kecil berlangsung terus-menerus. Kekuatan gempabumi berkisar antara 2,0 hingga 4,0 Skala Richter. Selain di daerah Kampak, swarm juga pernah terjadi di Lampung. Pada bulan Juni 2006 di daerah Kemiling, Bandar Lampung hampir setiap hari diguncang gempabumi jenis swarm, yang episentrumnya berada di Gunung Betung dan sekitarnya.

Aktivitas swarm di Halmahera Barat dilaporkan menimbulkan kerusakan bangunan rumah cukup banyak di Jailolo dan sekitarnya. Mengapa gempabumi dengan kekuatan kecil kurang dari 5,0 Skala Ricter dapat merusak banyak bangunan rumah?

Perlu kita pahami bahwa kerusakan bangunan akibat gempabumi dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu amplitudo, frekuensi, dan durasi getaran. Bangunan dapat mengalami kerusakan jika memenuhi paling tidak 1 faktor tersebut. Bangunan dapat rusak akibat amplitudo bilamana kekuatan gempabuminya besar.
Rusaknya bangunan juga dapat terjadi jika frekuensi bangunan sama dengan frekuensi dominan tanah. Ini terjadi bilamana terjadi resonansi gelombang gempabumi antara struktur bangunan dan tanah setempat.

Bangunan juga dapat mengalami kerusakan karena durasi gempabumi. Hal ini terjadi bilamana gempabumi yang terjadi berlangsung lama, atau bilamana struktur bangunan terus-menerus mengalami guncangan. Sehingga, meskipun kekuatan gempabumi kecil, tetapi jika kondisi bangunan terus mengalami guncangan maka lama-kelamaan akan terjadi kerusakan. Apalagi jika struktur bangunannya lemah, maka kerusakan mudah terjadi.

PEMBELAJARAN
Fenomena swarm di Halmahera Barat, dapat menjadi momentum tepat untuk pembelajaran masyarakat. Masyarakat kita perlu memahami gempabumi tipe III ini. Swarm dengan karakteriatiknya harus dikenal masyarakat. Ini penting, supaya jika terjadi di tempat lain tidak timbul keresahan dan kepanikan, karena masyarakat sudah memahaminya.

Dampak swarm memang meresahkan karena rentetannya yang berlangsung lama, sementara masyarakat awam belum mengenalinya. Dari berbagai kasus swarm di berbagai tempat, sebenarnya aktivitas swarm tidak membahayakan jika kondisi bangunan rumah di zona gempabumi memiliki struktur yang kuat.

Terkait aktivitas swarm di Halmahera Barat, masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing isu dari sumber yang tidak bertanggungjawab. Aktivitas swarm tidak akan diikuti oleh gempabumi dengan kekuatan besar, sehingga tidak akan memicu terjadinya tsunami.

Dr. Daryono, S.Si., M.Si.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKGgempa halbar

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI SELATAN BANTEN

Posted by Daryono pada November 28, 2015

Hari Sabtu, 28 November 2015, pukul 21.47.19 WIB wilayah Banten dan sebagian besarJawa Barat diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=5,6.

Pusat gempabumi ini terletak pada koordinat 7.32 LS – 105.81 BT, tepatnya di Samudera Hindia pada jarak 77 kilometer arah tenggara Pandeglang-Banten, pada kedalaman hiposenter 75 kilometer.

Guncangan gempabumi ini dirasakan di Pelabuhan Ratu pada skala intensitas III MMI, Bandung II-III MMI dan Jakarta II MMI. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban jiwa sebagai dampak gempabumi.

Gempabumi yang terjadi merupakan gempabumi hiposenter menengah akibat aktivitas subduksi/penyusupan lempeng di Lajur Benioff bagian atas. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh patahan naik (thrust fault).

Namun demikian, meskipun gempabumi dipicu oleh patahan naik, tetapi karena kekuatannya relatif kecil dengan kedalaman menegah, maka gempabumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, sehingga masyarakat dihimbau untuk tetap tenang.***

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

CATATAN SEJARAH GEMPABUMI DAN TSUNAMI MALUKU UTARA

Posted by Daryono pada November 22, 2015

CATATAN sejarah menunjukkan bahwa kawasan Maluku Utara-Sangihe sudah beberapa kali terjadi gempabumi merusak. Gempabumi Sangir 1 April 1936 adalah catatan gempabumi paling dahsyat yang pernah terjadi di zona ini, karena guncangannya yang mencapai VIII – IX MMI hingga menyebabkan sebanyak 127 bangunan rumah mengalami kerusakan.

Selain itu, gempabumi Pulau Siau pada 27 Pebruari 1974 juga memicu longsoran dan kerusakan bangunan rumah di berbagai tempat. Terakhir adalah gempabumi Sangihe-Talaud yang terjadi pada 22 Oktober 1983. Gempabumi ini dilaporkan telah merusak beberapa bangunan rumah.

Kawasan zona sumber gempabumi Maluku Utara-Sangihe juga memiliki beberapa catatan sejarah tsunami merusak akibat gempabumi tektonik. Beberapa catatan sejarah tsunami merusak di Maluku Utara dan sekitarnya adalah:

(1) Tsunami Banggai-Sangihe 1858 dilaporkan menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami,

(2) Tsunami Banggai dan Ternate 1859 telah mengakibatkan banyak bangunan rumah di daerah pesisir pantai disapu tsunami,

(3) Tsunami Kema-Minahasa 1859 dilaporkan memicu gelombang tsunami hingga mencapai atap bangunan rumah,

(4) Tsunami Gorontalo 1871 juga dilaporkan menerjang di sepanjang kawasan pesisir Pantai Gorontalo,

(5) Tsunami dahsyat Tahuna 1889 menerjang pesisir pantai hingga terjadi kenaikan air laut sekitar 1,5 meter,

(6) Tsunami Kepulauan Talaud 1907 menerjang kawasan pantai hingga ketinggian mencapai 4 meter, dan

(7) Tsunami Pulau Salebabu 1936 dilaporkan menerjang pantai dengan ketinggian hingga mencapai 3 meter.

Gambaran catatan sejarah tsunami tersebut di atas kiranya sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa Maluku Utara dan sekitarnya memang merupakan zona rawan gempabumi dan tsunami.

Bagi masyarakat setempat, kondisi alam yang kurang “bersahabat” ini adalah sesuatu yang harus diterima, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal dan menumpang di batas pertemuan lempeng tektonik.

*Dr. Daryono, S.Si., M.Si./Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsuami BMKG

 

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI HALMAHERA BARAT

Posted by Daryono pada November 22, 2015

AKTIVITAS gempabumi yang berlangng terus menerus di Halmahera Barat, sejak tanggal 16 November 2015, hingga hari ini Sabtu 21 November 2015 masih terus berlangsung. Hingga hari Sabtu malam, total aktivitas gempabumi yang terjadi sudah mencapai 469 kejadian dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman hiposenter.

Beberapa aktivitas gempabumi signifikan, guncangannya dirasakan hingga mencapai III – IV MMI. Gempabumi signifikan dirasakan hingga menimbulkan kerusakan, tercatat sudah terjadi sebanyak 9 kali. Pada tanggal 19 November 2015 terjadi 1 kali gempabumi dirasakan dengan kekuatan M=4,1. Selanjutnya pada tanggal 20 November 2015 terjadi 5 kali gempabumi dirasakan dengan kekuatan M=4,6, M=3,6, M=4,0, M=4,9, dan M=4,0. Pada tanggal 21 November 2015 masih terjadi gempabumi signifikan dirasakan sebanyak 3 kali dengan kekuatan M=4,5, M=4,7 dan M=4,0.

Rentetan peristiwa gempabumi signifikan yang mengguncang Kabupaten Halmahera Barat telah menimbulkan kerusakan pada ratusan bangunan rumah. Kerusakan bangunan rumah yang diakibatkan oleh peristiwa gempabumi yang terus terjadi ini, dilaporkan sudah mencapai 350 unit di Kecamatan Jailolo. Kerusakan paling banyak dilaporkan terjadi di Desa Bobanehena dengan rincian: rusak ringan (276 unit), rusak sedang (53 unit), dan rusak berat (21 unit).

Tingginya frekuensi kejadian gempabumi, dengan distribusi besaran magnitudo yang hampir sama, mengarah kepada dugaan bahwa gempabumi yang terjadi di Halmahera Barat ini merupakan tipe swarm. Swarm adalah tipe gempabumi yang tidak memiliki gempabumi utama (mainshocks), sehingga sulit untuk mengenali yang mana gempabumi pendahuluan (foreshocks) dan yang mana gempabumi susulannya (aftershocks).

Hasil analisis mekanisme sumber pada beberapa gempabumi signifikan menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh sebuah mekanisme patahan turun (normal fault) dengan kecenderungan strike berarah utara-selatan. Dari hasil analisis ini diperkirakan ada sebuah mekanisme depresi lokal yang terjadi di bawah permukaan di zona gempabumi.

Kepada masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tetap melakukan aktifitas seperti biasa. Masyarakat diminta untuk tidak terpancing isu dan prediksi-prediksi spekulatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pastikan informasi terkait gempabumi dan tsunami benar-benar bersumber dari BMKG dan UPT BMKG setempat.***

@daryonobmkg

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI BANJARNEGARA (M=3,2) 21 NOVEMBER 2015

Posted by Daryono pada November 21, 2015

banjarnegaraHari Sabtu, 21 November 2015, pukul 10.32.39 WIB wilayah Kebumen dan Banjarnegara, Jawa Tengah, diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=3,2 Skala Richter.

Pusat gempabumi terletak di daratan pada koordinat 7,49 LS – 109,74 BT, tepatnya pada jarak 16 kilometer arah tenggara kota Banjarnegara, dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer. Guncangan gempabumi ini dilaporkan dirasakan cukup kuat di daerah Banjarmangu, Banjarnegara dengan skala intensitas II-III MMI.

Gempabumi Banjarnegara yang terjadi merupakan gempabumi tektonik dangkal akibat terjadinya penyesaran/patahan lokal di kedalaman dangkal. Hal ini sesuai dengan analisis mekanisme sumber gempabumi yang menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitkan oleh sebuah aktivitas patahan dengan mekanisme strikeslip-normal (kombinasi pergerakan sesar mendatar dan sedikit turun). Nilai strike hasil analisis mekanisme sumber yang berarah utara-selatan ini sesuai dengan kondisi morfologi yang berupa pola-pola kelurusan di zona gempabumi.

Pukul 12.27.09 WIB dilaporkan terjadi gempabumi susulan dengan kekuatan M=3.4 Skala Richter, dirasakan di Banjarnegara dalam skala intensitas II-III MMI.

Sejarah gempabumi di daerah ini mencatat, bahwa gempabumi kuat dan merusak pernah terjadi pada 15 Okt 1852, dengan guncangan mencapai skala intensitas VI – VII MMI  hingga merusak banyak bangunan rumah. Selajutnya pada 19 April 2013 gempabumi dengan kekuatan M=4,8 Skala Richter juga merusak lebih dari 300 bangunan rumah di Kecamatan Batur dan Kecamatan Pejawaran.***

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

GEMPABUMI YAKUSHIMA, JEPANG

Posted by Daryono pada November 14, 2015

jepagHari Sabtu, 14 November 2015, pukul 03.51.37.2 WIB sebagian besar wilyah Jepang bagian selatan, seperti Yakushima, Mishima, Kagoshima, Makurazaki, dan Satsuma diguncang gempabumi tektonik dengan kekuatan M=6.7 (Mw).

Pusat gempabumi terletak pada koordinat 128.70°E  31.01°N, dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer. Guncangan gempabumi ini dirasakan cukup kuat di daerah Mishima, Yakushima, Kagoshima, Makurazaki, Satsuma, Ichiki, Minami, dan Aira dengan skala intensitas 1-2 (JMA Seismic Intensity).

Gempabumi yang terjadi ini merupakan jenis gempabumi dangkal akibat penyesaran mendatar, di zona seismik Northern Okinawa Trough, yang terletak di antara Lempeng Yang Tse dan gugus Kepulauan Ryuku.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dibangkitken oleh penyesaran dengan arah mendatar (lateral strike-slip fault) sebagai release shear stress di zona pemekaran di Back Arc Basin Spreading, Okinawa Trough. Mekanisme sumber ini relevan dengan kondisi tektonik di zona yang sedang mengalami pemekaran.

Disebabkan karena magitudo gempabumi yang cukup kuat dengan kedalaman dangkal, maka Pemerintah Jepang sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk pesisir Kagoshima and Kepulauan Satsunan.

Badan Meteorologi Jepang (The Japan Meteorological Agency-JMA) melaporkan bahwa tsunami kecil sempat tercatat di selatan Kepulauan Nakanoshima/Toshima setinggi 30 centimeter. *** @daryonobmkg

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.