Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

  • Kalender

    April 2014
    S S R K J S M
    « Nov    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Kategori

Mewaspadai Bahaya Sekunder Merapi

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

DE Boer dan Sanders (2002) dalam buku Volcanoes in Human History, menyebutkan bahwa hingga saat ini Merapi merupakan gunung api paling aktif di dunia.

Merapi memang memiliki frekuensi erupsi paling sering jika dibanding gunung api aktif lain di dunia. Menurut Badan Geologi, hingga tahun 2006 Merapi diperkirakan sudah mengalami erupsi besar sebanyak 83 kali.

Rata-rata selang waktu erupsi Merapi periode pendek terjadi antara 2 hingga 5 tahun, sedangkan selang waktu erupsi periode menengah terjadi setiap 5 hingga 7 tahun.
Namun demikian, gunung itu juga pernah mengalami masa istirahat panjang selama lebih dari 30 tahun, terutama pada masa awal pembentukannya.

Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini, terlihat waktu istirahat terpanjang Merapi pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587, sampai dengan tahun 1658.
Tanggal 5 November 2010 letusan dahsyat Merapi† kembali terjadi. Letusan Merapi kali ini sungguh luar biasa, karena mampu memuntahkan 150 juta meter kubik magma selama periode erupsinya. Bertiupnya angin yang cukup kuat, telah mengarahkan kolom abu vulkanik vertikal setinggi 9 kilometer, berubah menjadi horizontal yang mengarah ke arah sisi barat Merapi.

Muntahan magma hasil erupsi ini 19 kali lipat jauh lebih banyak jika disbanding-kan dengan† keluaran magma hasil erupsi yang terjadi pada tahun 2006.
Erupsi Merapi 2010 dikenal sebagai erupsi yang paling besar selama 140 tahun terakhir dan menelan jumlah korban jiwa dan harta benda sangat besar.

Peristiwa erupsi Merapi 2010 menunjukkan bahwa hujan abu† akibat semburan material vulkanik lebih dominan menyebar ke arah barat. Dampak hujan abu yang mengarah ke barat ini telah menyebabkan kawasan lereng barat gunung itu lebih banyak menyimpan material piroklastik ringan seperti abu, pasir dan kerikil. Bulan Januari dan Februari 2011, kondisi cuaca† di Pulau Jawa masih dalam periode puncak musim hujan, sehingga penduduk yang bermukim di sekitar Merapi perlu waspada terhadap bahaya sekunder letusan Merapi.

Setelah berlalu bahaya primer akibat langsung dengan letusan, warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di Merapi diimbau untuk selalu waspada, karena peluang terjadinya bahaya sekunder berupa banjir lahar yang lebih besar dapat terjadi, mengingat tingginya intensitas curah hujan selama puncak musim hujan pada bulan ini.

Bahaya Sekunder

Tidak kalah dari bahaya primer, bahaya sekunder dapat menerjang kawasan permukiman yang terletak di sepanjang daerah aliran sungai yang dilewati material lahar. Letusan demi letusan, mengakibatkan lereng gunung tersebut menjadi gersang dan dipenuhi endapan timbunan abu vulkanik.

Tingginya curah hujan yang jatuh di atas timbunan material vulkanik, akan mengalirkan material vulkanik tersebut ke daerah-daerah yang lebih rendah dan bisa menimbulkan bencana yang tidak kalah bahayanya dari bahaya primer erupsi.

Oleh karena itu, pemantauan terhadap bahaya Merapi seharusnya tidak hanya dilakukan terhadap kegiatan erupsi gunung apinya saja, tetapi juga akibat sampingan yang membahayakan kehidupan masyarakat, seperti banjir lahar dingin yang sangat merusak.

Pada kasus erupsi Merapi, material vulkanik yang relatif lebih ringan seperti abu dan pasir yang banyak diendapkan di kawasan barat memiliki sifat lebih mudah larut dalam aliran air hujan.
Sehingga, potensi banjir lahar di lereng barat dan barat daya tetap akan mengancam daerah aliran Kali Krasak, Kali Putih, Kali Blongkeng, Kali Pabelan, Kali Senowo dan Kali Apu.

Erupsi gunung api selalu menghasilkan deposisi material vulkanik berupa abu dan debris gunung api, yang menimbun di lereng badan gunung. Lahar terbentuk jika turun curah hujan dengan intensitas tinggi bercampur dengan material lepas gunung api hingga membentuk aliran. Meskipun material lahar tersusun atas abu gunung api dan fragmen batuan, banjir lahar mampu mengalir lebih deras dan lebih cepat jika dibandingkan aliran air biasa.

Material lahar yang tersusun atas campuran material lumpur dan pasir ini dengan cepat mengalir menuruni lereng-lereng gunung dengan kecepatan mencapai hingga 65 kilometer per jam dan dapat mengalir deras hingga jarak lebih dari 80 kilometer.

Aliran debris dengan berat jenis besar ini meluncur dengan percepatan makin besar, karena laju alirannya ditopang gaya gravitasi. Semakin cepat laju banjir lahar maka makin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan. Ancaman† bahaya banjir lahar tidak saja di sepanjang jalur sungai di lereng gunung, tetapi di kawasan dataran kaki justru lebih berbahaya, karena menjadi zona luncur bebas seperti halnya luapan Kali Putih yang memutuskan jalur transportasi antara Magelang dan Yogyakarta.

Salah satu contoh bencana banjir lahar paling merusak di dunia adalah banjir lahar pasca erupsi Gunung Nevado del Ruiz di Columbia tahun 1985. Dalam waktu empat jam setelah letusan yang disusul hujan deras, lahar meluncur deras sejauh 100 km hingga hanya menyisakan kehancuran kota.

Lebih dari 23.000 orang tewas, sekitar 5.000 orang terluka, dan lebih dari 5.000 rumah hancur di sepanjang Chinchin·, GualÌ, dan sungai Lagunillas. Kerusakan paling parah menimpa kota Armero yang berlokasi di mulut ngarai Lagunillas RÌo. Tiga perempat dari 28.700 penduduk kota tewas mengenaskan akibat banjir lahar 13 November 1985. Peristiwa mengerikan ini selanjutnya dikenang sebagai tregedi Armero-Chinchina, sebagai satu-satunya bencana banjir lahar paling mematikan yang tercatat dalam sejarah.

Ini adalah fakta bahwa dampak banjir lahar justru bisa lebih berbahaya daripada erupsi gunung api itu sendiri. Contoh lain gunung api Pinatubo di Filipina, yang meletus tahun 1991. Banjir lahar telah menghancurkan rumah milik lebih dari 100.000 orang di lereng dan dataran kaki gunung tersebut.

Terkait besarnya deposit lahar Merapi, untuk† menghabiskan material vulkanik hasil erupsi, tampaknya butuh waktu tiga hingga empat periode musim hujan. Diperkirakan ancaman banjir lahar bisa berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Rusaknya jembatan Kali Krasak tahun 1974, justru karena diterjang oleh banjir lahar hasil erupsi Merapi tahun 1969.

Sangat Merusak

Ada beberapa bahaya yang ditimbulkan sebagai dampak banjir lahar yang memiliki sifat sangat merusak. Karakteristik aliran lahar yang melaju cepat dengan tenaga besar ini, disebabkan Merapi merupakan strato volcano yang memiliki lereng sangat curam. Kombinasi aliran material vulkanik seperti abu gunung api, kerikil, kerakal, bongkahan batu dengan lereng curam, menjadikan aliran banjir lahar juga dikontrol oleh percepatan gaya gravitasi bumi.

Ancaman sekunder lahar Merapi memiliki daya rusak tinggi. Bongkahan batu-batu besar bisa terangkut aliran, karena aliran lahar memiliki berat jenis yang sama besar dengan bongkahan batu.

Fenomena batu-batu besar yang terbawa banjir lahar ini dapat disaksikan di sepanjang kawasan banjir lahar Kali Putih. Terangkutnya bongkahan batu oleh aliran lahar ini tentu saja sangat mengancam keberadaan dam dan sabo penahan banjir.

Banjir lahar juga memicu tingginya bahaya erosi di sepanjang bantaran sungai yang dilalui banjir lahar. Meningkatnya erosi akibat banjir lahar dapat dijelaskan dengan mudah, di mana derajat kemiringan lereng pegunungan sangat mempengaruhi tegangan permukaan. Akibat kecepatan aliran permukaan yang meningkat ini, maka kapasitas daya rusak banjir lahar akan menjadi makin besar.

Energi yang timbul akibat aliran permukaan akan berubah menurut kuadrat kecepatan nya. Kapasitas pengangkutan butiran material vulkanik akan berubah dengan pangkat 5 dalam waktu dalam satu satuan dimensi. Dengan kata lain, jika kecepatan aliran pemukaan menjadi 2 kali lipat, maka jumlah butiran material yang terangkut menjadi 32 kali lebih banyak.

Pada kemiringan lereng curam, mengalirnya banjir lahar ke arah dataran kaki gunung berlangsung sangat cepat. Daya kikis atau daya tumbuk arus banjir lahar terhadap tepi sungai akan makin kuat, sehingga bagian-bagian tanah pada bantaran sungai mengalami cerai berai dan terangkut aliran lahar.

Makin besar kemiringan lereng maka akan makin besar bantaran sungai mengalami pengikisan dan erosi. Dampaknya, pada setiap peristiwa banjir lahar ada kecenderungan tepi sungai menjadi makin lebar, sehingga berdampak kepada rusaknya infrastruktur, seperti bangunan rumah di bantaran sungai, selain itu jembatan dapat jebol akibat pondasi jembatan tergerus material lahar.

Upaya Mitigasi

Ada beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk memperkecil bencana yang disebabkan oleh aliran banjir lahar ini, seperti membangun bronjong, check dam, sabo dam, dan beberapa bangunan sipil lainnya.
Bronjong,† yang merupakan untaian kawat berisi batu dan pasir dalam kantong terutama ditujukan untuk membelokkan aliran lahar, supaya tidak menyeleweng menghancurkan permukiman penduduk di sepanjang jalur sungai.

Sedangkan checkdam dan sabodam dibangun melintang† aliran sungai, berfungsi untuk menahan material lahar yang terdiri dari berbagai ukuran batuan supaya tidak terangkut lebih jauh lagi. Lahar yang merupakan cairan pekat berberat jenis tinggi mampu mengambangkan bongkahan batuan berukuran lebih dari 2 meter, sehingga daya rusak lahar sebenarnya terletak pada kekuatan yang tersembunyi tersebut.

Apabila check dam atau sabo dam sudah tidak mampu lagi menampung material lahar, bahan-bahan tersebut akan melimpah ke daerah hilir yang di sini pun akan di tahan oleh bangunan serupa. Upaya mitigasi bencana banjir lahar Merapi tampaknya juga perlu dikembangkan sebuah sistem peringatan dini banjir lahar yang lebih canggih lagi, berupa sistem monitor dan warning banjir lahar real time.

Peralatan yang dinilai sangat penting ini, selain sinyal transmisi dan kamera CCTV yang sudah terpasang pada beberapa titik di Merapi adalah beroperasinya sistem pemantau curah hujan otomatis yang dipasang di puncak Merapi. Alat ini mampu memantau tingginya intensitas curah hujan secara telemetri, realtime dan terintegrasi di pusat pemantauan.

Instrumen peringatan dini lain yang perlu dipertimbangkan adalah sistem monitor aliran lahar yang dapat mendeteksi vibrasi tanah saat terjadi rayapan banjir lahar yang sedang meluncur di sepanjang daerah aliran sungai di lereng Merapi.

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG
Dimuat di Koran Suara Merdeka 28 Januari 2011

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

WASPADA BANJIR LAHAR MERAPI

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

MEMASUKI musim hujan 2013/2014, ancaman banjir lahar di lereng Merapi tetap harus diwaspadai, karena di kawasan puncak dan lereng-lereng Merapi masih tersimpan jutaan meter kubik endapan material vulkanik produk erupsi 2010. Material vulkanik itu dapat turun menjadi banjir lahar jika terjadi hujan deras di atas 100 milimeter selama lebih dari satu jam.

Untuk itu, kepada seluruh warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi dihimbau untuk selalu waspada, karena peluang terjadinya banjir lahar masih dapat terjadi saat berlangsung curah hujan tinggi di puncak musim hujan kali ini.

PUNCAK HUJAN

Hasil analisis data hujan selama 30 tahun terakhir, didukung dengan data kondisi fisis dinamika atmosfer serta suhu muka laut, menghasilkan Prakiraan Musim Hujan 2013/2014. Prakiraan musim hujan yang dipublikasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya beberapa daerah di Yogyakarta yang memasuki musim hujan pada awal bulan Nopember 2013. Daerah-daerah ini mencakup Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian selatan, dan Gunung Kidul bagian utara.

Sementara itu daerah yang paling akhir memasuki musim hujan adalah Gunung Kidul bagian selatan. Di daerah ini musim hujan jatuh pada akhir bulan Nopember. Daerah Gunung Kidul bagian selatan yang sebagian besar wilayahnya yang merupakan lahan kritis hampir selalu mendapatkan giliran terakhir musim hujan.

Ada satu hal yang perlu kita cermati terkait dengan prakiraan sifat hujan di Yogyakarta pada musim hujan saat ini. Prakiraan menunjukkan adanya dua zona musim dengan sifat hujan di atas normal, yaitu zona musim 138 yang mencakup kawanan Sleman bagian timur dan zona musim 121 yang mencakup kawasan puncak Merapi dan Magelang bagian timur. Sifat hujan di atas normal di zona musim 138 (lereng Merapi) dan zona musim 121 (puncak Merapi) ini patut untuk dicermati terkait dengan peluang terjadinya hujan lebat.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya peningkatan curah hujan selama musim hujan 2013/2014. Analisis menunjukkan bahwa kondisi normal hingga La Nina lemah akan dominan hingga pertengahan 2014. Sementara, prediksi Dipole Mode Indeks pada bulan Agustus hingga Desember 2013 berada pada kondisi normal hingga negatif kuat. Dengan demikian, ada indikasi bahwa pada Musim Hujan 2013/2014, uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia berpotensi akan bertambah.

Sementara itu, kondisi suhu muka laut di sebelah barat Sumatera, sekitar Pulau Jawa dan sebelah Selatan Kepulauan Maluku dan Papua Barat diprakirakan akan tetap hangat hingga November 2013 dengan anomali suhu berkisar +0.5°C s/d +1°C, namun demikian pada bulan-bulan selanjutnya akan berada pada kisaran normalnya.

Secara lokal, berdasarkan data rata-rata curah hujan bulanan maka dapat diketahui puncak hujan di kawasan Merapi. Data curah hujan bulanan dari Pos Hujan Kaliurang menunjukkan nilai yang mencapai 508 milimeter pada bulan Januari dan 514 milimeter pada bulan Pebruari. Tingginya curah hujan yang terjadi antara bulan Januari-Pebruari ini menunjukkan bahwa puncak hujan di puncak Merapi berlangsung pada bulan-bulan tersebut.

BANJIR LAHAR
Sebagai antisipasi meningkatnya curah hujan di musim hujan, kepada seluruh warga masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi dihimbau agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir lahar yang dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan. Banjir lahar masih berpotensi terjadi di beberapa aliran sungai, hanya saja material yang terbawa tidak sebanyak dahulu saat pasca erupsi. Di sisi selatan Merapi, beberapa aliran sungai perlu di waspadai yakni Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong. Sedangkan di sisi barat Merapi adalah Kali Krasak, Kali Putih, Kali Trising, dan Kali Senowo.

Saat ini endapan vulkanik sudah mengalami perubahan sifat dimana komponen abunya sudah banyak berkurang. Karena itu, endapan vulkanik yang ada tidak lagi mudah terpicu hujan deras mennjadi banjir lahar. Padahal, saat musim hujuan 2011 pasca erupsi, hanya dengan guyuran curah hujan 40 milimeter saja selama dua jam, langsung terjadi banjir lahar. Akan tetapi, setelah itu, meskipun terjadi curah hujan 60 milimeter, banjir lahar tidak terjadi.

Terkait dengan besarnya deposit lahar Merapi, maka untuk menghabiskan material vulkanik hasil erupsi tampaknya butuh waktu 3 hingga 4 periode musim hujan. Ancaman banjir lahar diperkirakan bisa berlangsung hingga 4 tahun setelah terjadinya erupsi, sehingga pada musim hujan kali ini masih memungkinkan terjadi banjir lahar. Sebagai contoh, peristiwa rusaknya jembatan Kali Krasak akibat banjir lahar pada tahun 1974, justru diterjang oleh lahar hasil erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 1969.

Erupsi gunungapi selalu menghasilkan endapan material vulkanik berupa abu dan debris gunungapi yang menimbun di lereng gunung. Selanjutnya lahar terbentuk jika turun curah hujan dengan intensitas tinggi yang bercampur dengan material lepas gunungapi hingga membentuk aliran. Meskipun material lahar tersusun atas abu gunungapi dan fragmen batuan, tetapi banjir lahar mampu mengalir lebih deras dan lebih cepat jika dibandingkan dengan aliran air biasa.

Material lumpur dan pasir dengan cepat mengalir menuruni lereng-lereng gunung dengan kecepatan yang mencapai 65 kilometer per jam dan dapat mengalir deras hingga jarak lebih dari 80 kilometer. Aliran debris dengan masa jenis besar ini meluncur dengan percepatan makin besar, karena ditopang oleh gaya gravitasi. Semakin cepat laju banjir lahar maka semakin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan. Ancaman bahaya banjir lahar tidak saja di sepanjang jalur sungai di lereng gunung, tetapi di kawasan dataran kaki gunung justru lebih berbahaya karena menjadi zona luncur bebas seperti halnya luapan Kali Putih yang pernah memutuskan jalur transportasi Magelang-Yogyakarta tahun 2011 lalu.***

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

WASPADA BENCANA AWAL MUSIM HUJAN

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

EJAK pekan pertama Oktober 2013, sebagian besar wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan sebagian Sumatera Selatan sudah diguyur hujan. Hujan deras yang berlangsung beberapa hari pada pekan ketiga Oktober lalu telah memicu bencana alam banjir. Puluhan ribu penduduk mengungsi, ribuan hektar sawah dan rumah terendam.

Terjangan banjir di Sumatera merupakan sebenarnya sudah diprediksi. Berdasarkan prakiraan awal musim hujan yang dipublikasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak September 2013, musim hujan 2013/2014 di Indonesia diawali dari wilayah Sumatera bagian utara, bergerak ke Sumatera bagian barat, selanjutnya ke selatan.

Sebanyak 22 zona musim di Sumatera, mengalami musim hujan yang di mulai pada awal bulan Oktober 2013. Zona itu mencakup Aceh Besar, Aceh Tengah, sebagian Aceh Timur, Aceh Tamiang, Tanah Datar, Kampar bagian barat laut, Merangin, Batanghari, sebagian besar Sumatera Selatan, Pulau Bangka, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Lampung Tengah bagian Timur.

Kita perlu siaga, belajar dari kasus Sumatera. Mengingat lebih dari 100 zona musim di wilayah di Indonesia masih dihadapkan kepada kondisi awal musim hujan. Potensi bencana alam akibat faktor hidrometeorologis seperti banjir bandang, banjir genangan, tanah longsor, dan angin kencang masih tetap akan membayangi sebagian besar wilayah Indonesia selama berlangsungnya musim hujan 2013/2014.

Apakah musim hujan tahun ini diatas normal hingga dapat memicu bencana alam yang lebih luas? Kondisi normal hingga La Nina lemah akan dominan hingga pertengahan 2014. Jadi, pada kisaran normal. Sementara, prediksi Dipole Mode Indeks (DMI) pada bulan Agustus hingga Desember 2013 berada pada kondisi normal hingga negatif kuat. Uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia berpotensi bertambah.

Diprakirakan monsun Asia akan melemah pada Maret hingga April 2014. Posisi Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) pada akhir Juli 2013 masih berada di sebelah utara ekuator dan cenderung bergerak ke arah selatan menuju garis ekuator. Posisi tersebut cukup sesuai dengan kisaran rata-rata, sehingga potensi kejadian musim hujan di beberapa wilayah diprakirakan akan cenderung normal.

Sementara itu, wilayah perairan di sebelah barat Sumatera, sekitar Pulau Jawa dan sebelah Selatan Kepulauan Maluku dan Papua Barat diprakirakan akan tetap hangat hingga November 2013 dengan anomali suhu berkisar +0.5°C s/d +1deg;C, namun selanjutnya akan berada pada kisaran normal.

Awal Musim Hujan
Berdasarkan hasil analisis data hujan periode 30 tahun terakhir dan pertimbangan kondisi fisis dinamika atmosfer dan suhu muka laut di wilayah Indonesia tersebut, disusunlah Prakiraan Musim Hujan 2013/2014. Rata-rata awal musim hujan di Indonesia umumnya dimulai pada bulan Oktober-November 2013. Prakiraan menunjukkan bahwa, untuk awal musim hujan yang sudah dimulai pada bulan Oktober 2013 terjadi di 22 zona musim di Sumatera, 61 zona musim di Jawa, 4 zona musim di Bali, 3 zona musim di NTB , 1 zona musim di NTT, 13 zona musim di Kalimantan, 12 zona musim di Sulawesi, 4 zona musim di Maluku dan 4 zona musim di Papua.

Zona musim dengan awal musim hujan jatuh pada November masih cukup banyak. Secara detail, zona musim ini meliputi:6 zona musim Sumatera (Lampung Utara bagian selatan, sebagian Lampung tengah, Metro, dan Lampung timur), 43 zona musim di Jawa (Jawa barat bagian utara, Bagian utara Pemalang/Pekalongan, Demak, Jepara, Pati, Rembang, Yogjakarta, Jawa Timur bagian utara, dan Madura), 8 zona musim di Bali (sebagian besar Jembrana, sebagian Buleleng, Bangli bagian utara, sebagian Karangasem, Bangli/Gianyar/Klungkung bagian selatan, dan Nusa Penida), 10 zona musim di NTB (sebagian besar P. Lombok, sebagian besar Sumbawa Barat, sebagian Sumbawa Besar), 16 zona musim di NTT (sebagian besar Nusa Tenggara Timur), 3 zona musim di Kalimantan (Kalimantan Selatan bagian timur, Kutai Timur bagian timur, Berau bagian tenggara, dan P. Laut), 11 zona musim di Sulawesi (Polewali Mamasa, Kota Majene, sebagian Enrekang, Bulukumba, Selayar, Kendari Selatan, Kota Kendari, P. Buton, dan Minahasa) dan 1 zona musim di Maluku Tenggara.

Zona musim yang awal musim hujannya jatuh pada Desember kebanyakan terdapat di Indonesai bagian timur. Zona musim ini meliputi:1 zona musim di Sumatera (Lampung timur bagian selatan), 1 zona musim di Jawa (Indramayu bagian utara), 1 zona musim di Bali (Buleleng bagian barat), 8 zona musim di NTB (Sumbawa besar bagian Timur Laut, Dompu, dan Raba), 6 zona musim di NTT (Sikka bagian utara, Flores Timur, Alor, dan Sumba Timur bagian utara), 5 zona musim di Sulawesi (sebagian Mamuju Utara, Jeneponto, P. Muna).

Selanjutnya, 6 zona musim di Maluku dan Papua (Buru bagian utara, Seram bagian utara, Maluku Tenggara bagian barat, Manokwari bagian selatan, Teluk Bintuni bagian timur dan Merauke). Selain itu, ada beberapa zona musim lain di Indonesia yang awal musim hujannya pada Januari-April 2014, tapi sedikit.***

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG

Dimuat di Koran Jawa Pos 6 November 2013

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

BADAI DAHSYAT DAN PEMANASAN GLOBAL

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

BELUM hilang dari ingatan masyarakat dunia akan bencana gempabumi merusak M=7,2 skala Richter yang mengguncang kawasan Visayas Tengah, Filipina, pada 15 Oktober 2013 lalu, kini kita sudah dikejutkan kembali oleh berita yang memilukan, yaitu terjangan Badai dahsyat Haiyan di Filipina.

Seperti yang sudah diprakirakan sebelumnya, Badai tropis Haiyan datang pada Jumat (8/11) pukul 04.40 waktu setempat, yang selanjutnya menyapu kepulauan tengah Samar dan Leyte. Hujan deras yang disertai angin kencang memporak-porandakan seluruh wilayah yang dilewati zona badai. Banjir dan longsoran terjadi di mana-mana. Air laut bergolak dan menyeruak hingga di ketinggiannya 6 meter, selanjutnya menerjang pesisir pantai mirip peristiwa tsunami.

Badai tropis Haiyan kini menjadi salah satu badai paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah. Badai ini menerjang dengan kecepatan lebih dari 235 kilometer per jam dan embusannya mencapai 275 kilometer per jam. Dengan kecepatan fantastik ini, Haiyan merupakan badai dengan kategori 5, dampaknya, banyak rumah mengalami kerusakan parah dan rubuh. Banyak wilayah akan terisolasi akibat pohon tumbang. Listrik dan air tak dapat didapatkan dalam hitungan minggu hingga bulan, serta banyak area yang tidak dapat dihuni. Ternyata benar, Haiyan telah menghancurkan 70-80 persen bangunan perumahan di daerah-daerah yang dilaluinya. Kota Tacloban merupakan kota yang menderita paling parah terkena amukan Haiyan. Hingga kini belum ada laporan pasti terkait jumlah korban tewas akibat badai. Hingga tulisan ini dibuat, sumber resmi pemerintah baru mengumunkan korban tewas akibat badai mencapai sebanyak 4.000 orang.

SEJARAH BADAI
Ditinjau dari sejarah badai merusak di Filipina, maka badai Haiyan yang terjadi saat ini hanyalah sebagian dari sejarah panjang bencana badai yang sudah berlangsung sejak masa lampau. Banyaknya catatan badai merusak di Filipina merupakan cermin akan kondisi geografi Filipina yang memang merupakan kawasan rawan badai tropis.

Filipina adalah negara yang paling berisiko mendapat terjangan badai tropis. Seringnya kawasan Filipina bagian timur dilanda badai hingga mempengaruhi pola persebaran pemukiman masyarakatnya, misalnya, pantai timur Luzon kini sangat sedikit penduduknya.

Berdasar catatan Christopher C. Burt dalam Philippines Typhoon History, negara Filipina memang sering kali menderita akibat terjangan badai. Sejak 1617 hingga saat ini, telah terjadi setidaknya 10 kali peristiwa badai yang mematikan dan menelan banyak korban jiwa. Catatan paling tua mengenai peristiwa badai dahsyat di Filipina dimulai sejak 1617. Badai tropis tanpa nama yang terjadi pada 10 Oktober 1617 menewaskan sekitar 1.000 orang. Sementara itu, badai tropis paling mematikan yang pernah terjadi di Filipina adalah Badai Thelma 1991. Badai ini menyebabkan banjir bandang besar dan longsoran di Kota Ormoc, Provinsi Leyte dan menewaskan sekitar 5.000-8.000 orang.

Sejarah badai merusak di Filipina sudah berlangsung sejak lama dan menelan korban jiwa hingga puluhan ribu orang. Beberapa peristiwa badai dahsyat yang pernah terjadi diantaranya adalah (1) Badai Angela yang tahun 1867 menyebabkan 1.800 orang tewas, (2) Badai tropis tanpa nama kembali terjadi pada 1897 menelan korban jiwa 1.500 orang tewas, (3) Badai Ike tahun 1984 menghantam kepulauan Filipina bagian tengah hingga menyebabkan sebanyak 1.492 orang tewas, (4) Badai Winnie yang terjadi pada tahun 2004 menelan korban 1.593 orang tewas, (5) Badai Reming tahun 2006 menelan korban sebanyak 1.399 orang tewas, (6) Badai Fengshen 2008 menelan korban 1.410 orang tewas, (7) Badai Washi yang terjadi pada tahun 2011, menghantam bagian utara Pulau Mindanao menyebabkan sebanyak 1.268 orang tewas, (8) Badai Bopha 2012 menerjang Pulau Mindanao hingga menyebabkan 1.146 orang tewas.

Secara statistik aktivitas badai di Filipina menunjukkan bahwa, frekuensi kejadian badai tropis paling rendah terjadi pada bulan Mei. Selanjutnya aktivitas kembali meningkat pada periode bulan Juni-September. Bulan Agustus menjadi bulan paling aktif terjadi badai di Filipina. Selanjutnya, aktivitas badai kembali menurun secara signifikan pada bulan Oktober.

PEMANASAN GLOBAL
Danpak dari pesatnya perkembangan teknologi adalah munculnya risiko bencana lebih besar yang sebelumnya tidak pernah dialami oleh manusia. Pola kehidupan modern yang cenderung konsumtif dan dengan kebebasan mengekplotasi sumberdaya alam, kini telah menciptakan masyarakat yang justru hidup dalam ketidaknyamanan karena selalu berada dalam bayang-bayang ancaman bahaya.

Peristiwa superbadai terjadi tidaklah murni semata-mata akibat proses sistem alam saja. Ada indikasi keterlibatan tangan-tangan manusia (antropogenic) yang juga ikut mempengaruhi proses semakin besarnya magnitudo dan intensitas badai. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan dan tanpa kendali, praktek ilegal logging yang terus berlangsung dengan membabat habis hutan-hutan tropis telah memicu naiknya suhu di permukaan bumi. Suhu laut meningkat 0,5 derajat celsius sejak seabad terakhir merupakan dampak nyata dari pemanasan global. Sementara badai sendiri terbentuk akibat tingginya suhu permukaan air laut.

Pakar pemodelan iklim dari National Center for Atmospheric Research, Colorado, Amerika Serikat, Kevin E. Trenberth menyatakan bahwa dengan suhu air laut yang lebih hangat dengan kelembaban udara di lautan 4 persen lebih tinggi akan memicu terbentuknya badai tropis yang lebih banyak dari biasanya. Ada kecendaerungan badai dengan kategori 3 atau di atasnya meningkat makin sering terjadi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sejak tahun 1970-an durasi dan intensitas badai besar yang melanda kawasan Atlantik dan Pasifik mengalami peningkatan. Selain itu, curah hujan akibat dampak badai kini akan menjadi 5-10 persen lebih besar dari biasanya.

Berdasar fakta tersebut di atas, maka patut untuk kita renungkan bersama. Jika degradasi alam terus berlangsung dan tidak ada upaya untuk menghentikannya, maka bisa jadi bencana alam besar akan lebih sering menghampiri kita. ***

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

BANJIR SUDAH MENJADI “TAMU” RUTIN KOTA PADANG

Posted by Daryono pada Juli 25, 2012

BANJIR SUDAH MENJADI “TAMU” RUTIN KOTA PADANG

By Daryono

BANJIR bandang menerjang Kota Padang pada Selasa petang (24/7). Warga tidak mengira hujan lebat yang berlangsung sekitar 3 jam lamanya ini akhirnya memicu banjir bandang. Aliran sungai di beberapa wilayah Kota Padang meluap. Bebera aliran sungai, seperti: Lubuk Kilangan, Seberang Padang, Batang Anai, Kurao Pagang, Batang Kuranji meluap. Akibat peristiwa ini dilaporkan ratusan rumah terendam banjir.

Lebih dari sepekan terakhir, hujan lebat memang melanda beberapa daerah di Pulau Sumatera. Air hujan seolah tumpah dari langit pada saat musim yang tidak semestinya, jika ditinjau dari kondisi normal hujannya. Fenomena hujan lebat di Bulan Juli di Sumatera Barat dan Sumatera Utara ini memang dirasa aneh oleh sebagian orang. Pada bulan Juni lalu curah hujan cenderung rendah. Warga masyarakat pun bertanya-tanya fenomena apa yang sedang terjadi, karena setelah hujan jarang terjadi, mengapa tiba-tiba hujan turun dengan lebat.

Pantauan cuaca menunjukkan bahwa pada saat terjadinya curah hujan lebat di Kota Padang memang terdapat gangguan tropis berupa tekanan rendah 1007 milibar di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera. Pada saat yang sama di Laut Cina selatan terdapat aktivitas siklon tropis Vicente. Dampak dari kedua fenomena gamnguan tropis itu menyebabkan di Sumatera Barat terbentuk zona pertemuan massa udara yang kaya uap air hingga menimbulkan konsentrasi awan konvektif yang memicu hujan deras di Sumatera Barat pada sore harinya.

Catatan kejadian banjir menunjukkan bahwa di Kota Padang memang daerah rawan banjir. Pada November 1986 tercatat dalam rekor Muri sebagai kota dengan tingkat curah hujan yang tinggi yaitu 5.254 mm. Pada tahun 1980 hampir 2/3 kawasan Kota Padang pernah terendam banjir karena saluran drainase kota yang bermuara ke Batang Arau tidak mampu lagi menampung limpahan air air hujan.

Pada beberapa tahun terakhir frekuensi kejadian banjir di Kota Padang semakin meningkat. Data banjir Kota Padang selama enam tahun terakhir adalah: (1) Pada 7 Juni 2007 akibat hujan lebat yang turun selama berjam-jam hampir sebagian besar kawasan kota Padang dilanda banjir. (2) Pada 14 September 2009 sebagian wilayah di kota Padang dilanda banjir, banjir juga melanda tiga desa di Kabupaten Pesisir Selatan. (3) Hujan sepanjang yang terjadi pada 25 Maret 2010 sore hingga 26 Maret 2010) pagi, membuat sejumlah daerah di Kota Padang banjir. (4) Pada 27 September 2010 Kota Padang terjadi banjir, ratusan orang mengungsi. (5) Pada 13 Oktober 2010, ratusan warga Kota Padang, Sumatera Barat, terpaksa mengungsi ke tempat yang aman akibat banjir yang melanda beberapa kawasan di kota. (6) Pada 2 Nopember 2011 beberapa pemukiman masyarakat dan ruas jalan utama Kota Padang kebanjiran. (7) Pada 4 November 2011 banjir di Sumatera barat menyebabkan 6 orang meninggal dunia dan 4 orang hilang. Dan puluhan rumah hanyut. (8) Pada 23 Januari 2012 ribuan rumah di Kecamatan Kototangah terendam air 1-2 meter. (9) Pada 29 Pebruari 2012 ratusan rumah di Kota Padang terendam banjir. (10) Pada 1 Maret 2012 ratusan rumah di Kota Padang terendam banjir. (11) Pada 8 April 2012 Sejumlah ruas jalan di Kota Padang terendam banjir sore hingga malam, membuat beberapa kawasan di Kota Padang tergenang air, dan (12) 31 Mei 2012 hujan lebat menyebabkan beberapa daerah pemukiman di Kota Padang terendam banjir.

Ditinjau dari morfologinya, dataran rendah Kota Padang memang daerah rawan banjir. Sampai saat ini Kota Padang memang belum bisa seratus persen mengatasi banjir. Dari dulu di kota yang terletak di bibir pantai ini, banjir masih menjadi momok apabila hujan turun terus menerus.

Selain faktor hidrometorologis berupa tingginya curah hujan, banjir yang sudah menjadi “tamu” rutin di Kota Padang merupakan perwujudan dari kurangnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan. Salah satu upaya mitigasi banjir dapat dilakukan dengan menjaga lingkungan hidup.

Keberadaan hutan yang lestari memiliki fungsi sangat vital untuk menahan curahan air hujan. Dengan menghijaukan dan mempertahankan kelestarian hutan, ancaman banjir dapat dikurangi. Hutan yang lestari membuat masyarakat terhindar dari banjir. Sayang, masyarakat kita sekarang kurang memahami arti penting lingkungan hidup.

Ada kecenderungan persebaran dan populasi penduduk di Kota Padang yang terus meningkat membuat penduduk mulai merambah makin ke pedalaman. Pada masa lalu, ketika pusat Kota Padang masih ada di sekitar pantai, banjir belum begitu menjadi masalah. Disamping karena kawasan hutan di dataran tinggi seperti di Kuranji, Pauh dan Lubuk Begalung hingga Indarung masih terjaga. Tapi lambat laun kemudian pola pemukiman bergerak meluas sampai ke timur membuat kawasan hutan menjadi terbuka. Aktifitas penduduk yang kian meningkat membuat kawasan serapan air juga kian tertutup oleh bangunan.

Setiap kali hujan, tidak lagi terserap oleh tanah melainkan langsung hanyut ke sungai-sungai yang tidak mampu menampungnya. Hutan di bagian timur Kota Padang semakin berkurang, sungai-sungai besar berubah menjadi dangkal karena tinginya laju erosi.
Kondisi lingkungan menjadi semakin buruk. Lahan persawahan dan ladang produktif kini banyak beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Hingga akhirnya air limpasan permukaan itu pun selalu meluap sampai jauh dan menyebabkan banjir yang kini harus dihadapi oleh penduduk Kota Padang.***

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Tsunami Dahsyat Pulau Seram 1674

Posted by Daryono pada Juli 16, 2012

Tsunami Dahsyat Pulau Seram 1674

Oleh Daryono, S.Si.,M.Si., Dr.

Tsunami Pulau Seram terjadi pada tanggal 17 Februari 1674. Tsunami ini dibangkitkan oleh gempabumi tektonik dengan kekuatan M = 8,0 Skala Richter. Pusat gempabumi ini terletak pada titik kordinat 3,50 LS dan 128,2 BT, atau tepatnya pada jarak 22,8 kilometer arah utara kota Ambon. Gempabumi dan tsunami ini menurut laporan Rynn (2002) menelan korban jiwa meninggal sebanyak 2.970 orang.

Peristiwa dahsyatnya peristiwa gempabumi dan tsunami Pulau Seram tahun 1674 terdokumentasi dengan baik dalam sebuah buku yang berjudul “Waerachtigh Verhaeel van de Schricklijke Aardbevinge, Nuonlanghs eenigen tyd herwerts, ende voor naemntlijck op den 17, February des Jaers 1674. voorgevallen, In/en ontrent de Eylanden van Amboina.” Buku ini diterbitkan berdasarkan laporan G.E. Rhumpius (laporan selesai ditulis pada th. 1675) pada tahun 1998. Dibawah ini adalah cuplikan kisah yang yang menggambarkan peristiwa gempabumi dan tsunami Pulau Seram pada saat itu.

Sebetulnya gempabumi dimulai pada bulan Oktober 1671, benteng Hollandia di Sori-sori hancur, gunung-gunung pada runtuh, tanah retak-retak sedalam pohon kelapa. Getaran-gataran kuat bumi tidak pernah benar-benar berhenti. Pada Tanggal 12 Juli 1673 bumi tiba-tiba bergetar keras, suara bergemuruh aneh menakutkan disertai ledakan petir tajam mendesis menghantam pohon dan kastil. Tiupan angin kencang berubah-ubah arah sehingga kapal layar di lepas pantai pun menjadi sulit dikendalikan.

Pada awal tahun 1674, kemurkaan Tuhan mulai di Ternate dengan getaran-getaran dan gempabumi serta pengangkatan tanah, sedang Gunung Gamgonora (di Pulau Halmahera) yang besar meletus, segala sesuatu disekitarnya, manusia, dan segalanya ambruk dan hilang. Sejumlah besar ikan dari kedalaman tak terduga dihempaskan jauh kehutan-hutan.

Namun sehebat-hebatnya dan menakutkan gempa yang sudah terjadi, belum seberapa dibandingkan dengan kejadian 17 Februari 1674. Sabtu sore sekitar pukul 19.30. di Leytimor, Hitu, Nusatelo, Seram, Buro, Manipa, Amblau, Kelang, Bonoa, Honimoa, Nusa Laut dan sekitarnya diguncang gempabumi dahsyat, orang-orang yang sedang merayakan Hari Raya bejatuhan tumpang tindih karena tanah naik turun seperti gelombang laut. Bangunan tinggi ambruk tinggal puing-puing saja, menewaskan banyak orang termasuk istri dan anak perempuan G.E. Rumphius.

Pemandangan mengenaskan menghantam Ambon pada tanggal 17 Februari 1674, Sabtu sore, ketika diadakan kebaktian do’a. Cuaca cerah dan terang bulan. Orang-orang Cina sedang suka cita bersenang merayakan Tahun Barunya. Tiba-tiba mendadak tersentak, bumi naik turun dengan keras, membunuh dan menguburkan orang-orang yang sedang pesta itu di bawah puing-puing rumah batu yang tiba-tiba ambruk hancur luluh lantak.

Kejadian di daerah Hitu bahkan lebih menakutkan lagi. Banyak masyarakat menyaksikan kemunculan air yang tiba-tiba terkumpul di tempat tanah yang longsor. Segalanya roboh termasuk menara yang berdiri kokoh di atas bukit yang menantang gunung-gunung. Gelombang air menerjang, dan tsunami itu menyapu bersih segalanya, menengelamkan 2.000 orang dan menghisap pohon dan segala sesuatu yang ada di permukaan ke perut bumi. Daerah-daerah berbukit di Lebalehu dan Semalu yang terletak lebih tinggi, musnah dalam waktu kurang dari 15 menit, meninggalkan lubang tanpa dasar. Diperkirakan bencana hebat ini menyebabkan 2.465 orang meninggal dunia.***

Ditulis dalam Uncategorized | 1 Comment »

Posted by Daryono pada April 29, 2012

MEMAHAMI GEMPA BESAR YANG UNIK

Oleh DR. Daryono, S.Si, M.Si.
Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

GEMPABUMI besar 8.5 Skala Richter kemali mengguncang bumi Nangroe Aceh Darusalam pada hari Rabu (11/04). Pusat gempabumi ini terletak di Samudera Hindia berjarak 398 kilometer arah baratdaya kota Meulaboh. Dengan kedalaman hiposenter yang hanya 10 kilometer di bawah laut, maka gempabumi ini pun dinyatakan berpotensi tsunami. Namun demikian, patut disyukuri bahwa akhirnya gempabumi ini hanya menimbulkan tsunami kecil di beberapa tempat. Di Lahewa Nias utara ketinggian air laut naik sekitar 1 meter.

Sedangkan di beberapa titik sea level station mencatat, di wilayah Meulaboh ketinggian air laut naiknya hingga 0,8 meter, sedangkan di Sabang air laut naik ke permukaan setinggi 0,6 meter. Gempabumi aceh 2012 menjadi menarik untuk dikaji mengingat kekuatan magnitudonya yang besar tetapi dampak yang ditimbulkannya sangat minimal. Selain itu, gempabumi ini juga memiliki beberapa keunikan terkait akumulasi tegangan yang bekerja dan lokasi pusat gempabuminya.

SYARAT TSUNAMI
Peristiwa gempabumi Aceh 2012 ini jika dibandingkan dengan gempabumi yang pernah mengguncang Aceh 2004, memang sama-sama gempabumi besar namun berbeda dalam dampak yang ditimbulkannya. Jika gempabumi kuat 2004 memicu megatsunami yang menelan ratusan ribu korban jiwa, maka gempabumi 2012 ini sekalipun kekuatannya sangat besar tetapi tidak membangkitkan tsunami yang cukup signifikan.

Gempabumi Aceh 2012 meskipun pusat gempabuminya di laut, bermagnitudo besar, dengan kedalaman dangkal, tetapi mekanisme sumber gempabuminya menunjukkan pergerakan persesaran horizontal (strike-slip fault). Aktivitas transform fault yang mendatar inilah yang membuat ribuan nyawa di pesisir barat Sumatera terselamatkan dari bencana tsunami yang hampir sama dengan tsunami 2004. Fakor mekanime sumber gempabumi inilah yang akhitnya membedakan secara tegas dengan peristiwa gempabumi Aceh 2004.

Terkait dengan peristiwa terjadinya tsunami, maka ada 4 (empat) persyaratan agar gempabumi tektonik dapat memicu tsunami dahsyat, yaitu: (1) kedalaman hiposenter gempabumi harus dangkal kurang dari 70 kilometer, (2) pusat gempabumi terjadi di dasar laut, (3) magnitudo gempabumi cukup besar lebih dari 7,0 Skala Richter, dan (4) patahan yang terjadi akibat gempabumi merupakan patahan vertikal dengan dimensi sesar sangat besar.

Timbulnya tsunami kecil pada peristiwa gempabumi sesar geser ini sangat mungkin disebabkan oleh adanya hole yang vacuum saat terbentuk penyesaran di zona transform fault. Selain itu sesar geser juga dapat menyebabkan tsunami jika pergeserannya tidak murni horisontal, tetapi harus ada sedikit mekanisme dip-slip, sebagaimana sesar gunting. Namun demikian pada umumnya pada penyesaran geser arah gerakan naik turunnya bagaimanapun tetap tidak sebesar kalau penyesaran naik (thrust fault) atau penyesaran turun (normal fault).

GEMPABUMI UNIK

Peristiwa gempabumi Aceh 2012 memiliki beberapa keunikan terkait dengan kekuatan gempabumi, akumulasi tegangan, dan lokasi pusat gempabuminya, yaitu:

Pertama, gempabumi Aceh 2012 dengan mekanisme strike-slip memiliki magnitudo sangat besar, padahal umumnya gempabumi dengan mekanisme sesar horizontal (strike-slip) semacam ini tidak memiliki magnitudo yang besar. Gempabumi kuat biasanya cenderung terjadi di zona penyusupan dangkal atau yang populer disebut sebagai zona megathrust. Di zona megathrust ini sebuah lempeng tektonik menyusup dibawah lempeng yang lain, kemudian tertahan dan membangun akumulasi medan tegangan dalam waktu lama hingga dilepaskan energinya sebagai gempabumi besar.

Kedua, berdasarkan perkiraan para ahli gempabumi, energi medan tegangan di zona seismik sebelah barat Aceh sudah berkurang banyak seiring dengan terjadinya gempabumi megathrust pada 26 Desember 2004 yang memicu tsunami. Namun demikian tanpa diduga di zona seismik yang relatif berdekatan dengan pusat gempabumi utama tahun 2004 lalu masih menyimpan tegangan dan kini terjadi pelepasan energi tegangan di bagian luar daerah pertemuan lempeng (outer rise earthquake) dengan kekuatan sangat besar.

Ketiga, berdasarkan catatan sejarah gempabumi, kejadian gempabumi kuat yang terjadi di luar daerah subduksi semacam ini memang tergolong langka. Belajar kepada kasus gempabumi Aceh 2012 ini maka semakin menjadikan kita yakin bahwa di lepas pantai barat Sumatera dan di selatan Jawa sekalipun, atau di zona seismik manapun yang memiliki kesamaan unsur tektoniknya ternyata pada lempeng samudera belakang zona subduksi masih menyimpan potensi gempabumi kuat (outer rise earthquake) sehingga seyogyanya kenyataan ini akan membuat kita selalu waspada. Fenomena alam semacam ini sebenarnya menjelaskan kepada kita bahwa kondisi beberapa bagian kulit bumi kita memang masih dalam posisi tegangan kritis (critical stress).

Bagi masyarakat pesisir barat Sumatera, kondisi alam yang selalu kurang “bersahabat” ini merupakan konsekuensi yang harus diterima. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah risiko yang harus dihadapi sebagai masyarakat yang tinggal dan menumpang di batas pertemuan lempeng tektonik.

Bagi kalangan ahli kebumian dan instansi terkait dengan pemantauan gempabumi, labilnya kawasan Sumatera bagian barat secara tektonik merupakan tantangan untuk mencari jalan keluar, baik upaya mitigasi atau merancang sistem peringatan dini yang digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan upaya memperkecil risiko apabila sewaktu-waktu terjadi gempabumi dan tsunami.***

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Posted by Daryono pada April 29, 2012

EVALUASI POTENSI TSUNAMI DI SELATAN JAWA
Oleh: Dr. Daryono, S.Si.,M.Si.
Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

GEMPABUMI kuat 8.5 Skala Richter kembali mengguncang Bumi Nangroe Aceh Darusalam Rabu (11/04). Dengan kedalaman hiposenter hanya 10 kilometer, maka gempabumi ini pun dinyatakan berpotensi tsunami. Namun demikian patut disyukuri bahwa Gempabumi ini hanya menciptakan tsunami kecil kurang dari 1 meter pada beberapa lokasi di pantai barat Sumatera. Mengapa gempabumi kuat dengan kedalaman dangkal tersebut tidak memicu tsunami? Jawabannya adalah karena gempabumi yang terjadi tidak memenuhi seluruh syarat terbentuknya tsunami. Mekanisme sumber gempabumi yang terjadi merupakan patahan mendatar sehingga tidak mengganggu kolom air laut secara signifikan.

SYARAT TSUNAMI

Zona selatan Pulau Jawa merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks. Pengaruh tektonik utama di kawasan ini didominasi oleh tumbukan antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Tumbukan ini menyebabkan timbulnya pusat-pusat gempabumi di zona subduksi dan pusat¬-pusat gempabumi akibat sesar aktif di daratan Pulau Jawa. Sebagai kawasan seismik aktif dengan generator gempabumi di Samudera Hindia, maka menjadi sangat menarik untuk melakukan evaluasi potensi bahaya tsunami di zona selatan Jawa terkait dengan syarat-syarat terjadinya tsunami.

Ada beberapa syarat agar gempabumi dapat memicu tsunami. Gempabumi akan membagkitkan tsunami jika: (1) pusat gempabumi terjadi di laut, (2) gempabumi yang terjadi memiliki magnitudo besar, lebih dari 7,0 Skala Richter, (3) kedalaman gempabumi harus dangkal, kurang dari 70 kilometer, dan (4) patahan yang terbentuk merupakan patahan vertikal dengan dimensi sesar yang berukuran besar.

Zona selatan Jawa sangat rawan gempabumi yang ditunjukkan dengan catatan sejarah gempabumi merusak pada masa lampau. Namun demikian selain rawan gempabumi zona selatan Jawa juga rawan ancaman tsunami. Sesuai dengan syarat terjadinya tsunami tersebut di atas, maka ada 4 (empat) fakta potensi tsunami di zona selatan Jawa.

Pertama, mayoritas Gempabumi di zona selatan Pulau Jawa berpusat di laut. Pulau Jawa merupakan bagian dari rangkaian busur kepulauan di zona seismik Mediterania, sehingga dominasi pusat gempabumi lebih banyak di laut. Peta seismisitas Pulau Jawa dan sekitarnya menunjukkan bahwa persebaran aktivitas gempabumi lebih banyak terjadi di laut daripada di daratan. Peta tektonik menunjukkan keberadaan generator gempabumi di zona selatan Jawa yang terletak di Samudera Hindia, yaitu: zona megathrust atau zona penyusupan lempang kedalaman dangkal. Tingginya aktivitas seismik di Samudera Hindia menjadikan pesisir selatan Jawa sebagai kawasan rawan tsunami.

Kedua, zona selatan Jawa berpotensi terjadi gempabumi kuat. Jika mencermati sejarah kegempaan Jawa, sejak dahulu, zona selatan Jawa merupakan kawasan yang selalu mengalami gempabumi kuat. Gempabumi Bantul 10 Juni 1867 menyebabkan ribuan rumah rusak dan lebih dari 500 orang meninggal (Newcomb dan McCann, 1987). Gempabumi 23 Juli 1943 menyebabkan 15.275 rumah rusak dan lebih dari 213 orang meninggal (Bemmelen, 1949). Tanggal 27 Mei 2006, zona selatan Jawa kembali diguncang gempabumi tektonik mengakibatkan lebih dari 6.000 orang meninggal dunia dan 1.000.000 orang kehilangan tempat tinggal (Walter et al., 2008). Gempabumi kuat memang jarang terjadi, karena karakteristik gempabumi kuat memang memiliki periodisitasnya cukup lama. Teori periode ulang menunjukkan bahwa gempabumi kuat dapat terjadi lagi dalam periode tertentu. Beberapa catatan sejarah gempabumi dahsyat di zona selatan Jawa ini menunjukkan bahwa di kawasan ini memang berpeluang terjadi gempabumi kuat.

Ketiga, mayoritas gempabumi di Samudera Hindia selatan Jawa berkedalaman dangkal. Peta seismisitas menunjukkan bahwa aktivitas gempabumi yang mendominasi kawasan ini merupakan gempabumi dangkal. Data seismisitas pada penampang lintang hiposenter di bawah Pulau Jawa menunjukkan bahwa mayoritas aktivitas gempabumi di selatan Jawa merupakan gempabumi kedalaman dangkal kurang dari 60 kilometer.

Gempabumi berkedalaman dangkal di zona ini bersumber dari zona megatrust serta sesar aktif di antara zona kontak antar lempang dengan pesisir Pulau Jawa yang belum dikenali. Keberadaan zona megatrust dan sesar aktif di dasar laut sebagai generator gempabumi dangkal menjadikan zona selatan Jawa sebagai kawasan rawan tsunami.

Keempat, Samudera Hindia selatan Jawa banyak terdapat persebaran mekanisme sumber gempabumi dangan arah pergerakan vertikal baik sesar naik (thrust fault) maupun sesar turun (normal fault). Tsunami dipicu gempabumi dengan sumber gempabumi patahan vertikal. Data seismotektonik menunjukkan bahwa dasar laut di Samudera Hindia selatan Jawa banyak ditemukan persebaran patahan vertikal, baik thrust fault maupun normal fault.

ZONA RAWAN
Secara historis kawasan pesisir selatan Jawa khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah terletak di antara 2 (dua) lokasi bencana tsunami, yaitu Tsunami Banyuwangi 1994 (korban meninggal 238 orang) dan Tsunami Pangandaran 2006 (korban meninggal 432 orang). Kondisi zona subduksi lempeng di selatan Jawa memiliki kemiripan dengan zona subduksi lempeng di selatan Banyuwangi dan Pangandaran dimana gempabumi pembangkit tsunami pernah terjadi. Adanya kemiripan unsur tektonik memberi peluang gempabumi yang membangkitkan tsunami di kawasan ini.

Dalam legenda Nyi Roro Kidul digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta kuda dalam balutan ombak besar yang bergulung-gulung. Ada dugaan legenda itu sebenarnya pesan bahwa pernah ada tsunami di sana. Bisa jadi pernah ada kejadian besar yang sangat membekas masyarakat Jawa jaman dahulu. Kisah-kisah legenda semacam ini memperkuat hasil penelitian geologi yang mencari jejak tsunami purba. Misalnya mengenai bukti gempa dan endapan tsunami yang terjadi pada 400 tahun lalu di Cilacap dan Pangandaran yang diyakini jauh lebih besar ketimbang tsunami yang ada saat ini.

Peta rawan tsunami di Indonesia menunjukkan bahwa seluruh kawasan pesisir selatan Pulau Jawa termasuk dalam zona rawan. Pantai selatan Jawa merupakan lautan terbuka yang berhadapan dengan zona subduksi lempeng. Bagi masyarakat pantai selatan, kondisi alam yang rawan ini adalah sebuah konsekuensi yang harus diterima. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah risiko yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal di batas pertemuan lempeng tektonik.***

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Posted by Daryono pada Oktober 15, 2011

KERAWANAN GEMPABUMI DAN TSUNAMI DAERAH BALI SERTA ANTISIPASINYA

Daryono
Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
email:daryonobmg@gmail.com

Intisari

Wilayah Indonesia merupakan zona” triple junction” yaitu kawasan benturan 3 lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Dampaknya, Indonesia menjadi salah satu kawasan seismik yang aktif dan kompleks. Secara regional, Bali sebagai bagian tatanan tektonik Indonesia, maka kerawanan gempabumi di daerah ini disebabkan oleh adanya 2 (dua) pembangkit gempabumi, yaitu penyusupan lempeng Indo-Australia dari selatan dan patahan lokal Bali Back-Arc Thrust dari utara. Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi bencana gempabumi di Bali, BMKG telah membangun jaringan pemantau gempabumi digital yang beroperasi secara kontinyu, terpadu dan real time pada tahun 1990. Selain sebagai kawasan rawan gempa, secara tektonik Bali juga memiliki potensi ancaman tsunami. Sebagai antisipasinya, awal tahun 2006 BMKG menyempurnakan perangkat analisis agar mampu menghasilkan informasi gempabumi yang lebih cepat. FONYX System yang dioperasikan mampu menentukan parameter gempa dalam waktu 5 menit. Kecepatan deteksi gempa semacam ini merupakan Infrastruktur dasar terrealisasinya sistem peringatan dini tsunami untuk mengantisipasi sekaligus peringatan dini bencana tsunami di Bali.

PENDAHULUAN

Kepulauan Indonesia adalah salah satu wilayah di dunia dengan tingkat aktivitas gempabumi yang sangat tinggi, sekaligus merupakan wilayah tektonik yang sangat aktif dan kompleks. Hal ini disebabkan karena posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik, yang bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda-beda.

Selain itu Indonesia juga merupakan suatu daerah dengan struktur palung kepulauan yang khas, dengan karakteristik fisiografik yang unik seperti pemisah antara dua samudra yang dalam dan pertemuan dua sistem pegunungan, yaitu sistem pegunungan Mediterania yang terbentang di Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, dan sistem Pegunungan Pasifik yang terbentang di Pulau Halmahera dan Sulawesi. Interaksi antara keempat lempeng utama dan aktifitas vulkanik dua sistem pegunungan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan terhadap gempabumi dengan tingkat seismisitas yang tinggi. Berdasarkan catatan kegempaan selama satu abad terakhir, setiap tahun rata-rata terjadi sepuluh gempabumi merusak di Indonesia.

Di Indonesia, selama rentang waktu periode 2004-2009 telah terjadi lebih dari sebelas kali peristiwa gempabumi merusak. Berikut ini adalah daftar bencana gempabumi merusak di Indonesia sejak tahun 2004-2009, yaitu: gempabumi Pariaman 2009 (M 7,6 SR; lebih 800 orang tewas), gempabumi Tasikmalaya 2009 (M 7,3 SR; lebih dari 46 orang tewas), gempabumi Solok 2007 (M 8,4 SR; lebih dari 25 orang tewas), gempabumi Sumatera Barat 2007 (M 6,3 SR; 52 orang tewas), gempabumi Manado 2007 (M 7,3 SR; 4 orang tewas), gempabumi dan Tsunami Pangandaran 2006 (M 7,7 SR; lebih dari 600 orang tewas), gempabumi Yogyakarta 2006 (M 6,3 SR; lebih dari 6.000 orang tewas), gempabumi Nias 2005 (M 8,7 SR; lebih dari 900 orang tewas), gempabumi dan Tsumani Aceh 2004 (M 9,0 SR; lebih dari 200.000 orang tewas), gempabumi Nabire 2004 (M 6,4 SR; lebih dari 30 orang tewas), dan gempabumi Alor 2004 (M 6,0 SR; lebih dari 30 orang tewas). Peta seismisitas Indonesia periode 1900-2009 menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Indonesia memang sangat tinggi.

Berdasarkan fakta tektonik dan catatan kegempaan di Indonesia, maka sebagai langkah mitigasi dan antisipasi dari segi pemantauan gempabumi perlu kiranya terus dilakukannya perbaikan, baik sistem pemantauan maupun analisisnya sehingga mampu memberikan informasi gempabumi sedini mungkin, termasuk sistem peringatan dini bahaya tsunami di wilayah Indonesia.

RAWAN GEMPABUMI

Secara regional, Daerah Bali, berdasarkan pada karakteristik kegempaan dan tektonik, serta ditunjang dengan karakteristik data geofisika yang ada, maka sumber gempabumi yang mempengaruhi kawasan Bali dan sekitarnya dapat dibagi atas 2 bagian, yaitu zona penyusupan lempeng Australia di selatan Bali dan patahan naik busur belakang di utara Bali. Gempabumi yang terjadi pada zona penyusupan lempeng di Bali umumnya dipisahkan atas dua kelompok, yaitu gempabumi megathrust yang merupakan gempabumi akibat penyusupan dangkal dan gempabumi Benioff Zone yang merupakan gempa akibat penyusupan dalam (Hamilton, 1979).

Pengaruh tektonik utama untuk Pulau Bali didominasi oleh adanya tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan busur Sunda di selatan Pulau Bali yang membentang dari selat Sunda di barat sampai Alor di timur (Silver et al. 1986). Penyusupan lempeng ini cukup aktif dengan kecepatan 9 cm/tahun (DeMets, 1994) menyebabkan timbulnya pusat-pusat gempa di zona suhduksi Jawa yang dimulai dari selat Sunda di bagian barat dan berakhir di Pulau Banda di bagian timur serta pusat-­pusat gempabumi pada patahan Busur Belakang Bali (Bali Back Arc Thrust).

Berdasarkan rekap data hasil pemantauan gempabumi di daerah Bali dan sekitarnya, rata-rata dalam sehari terjadi gempabumi sebanyak 5 hingga 10 kali dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Sedangkan dalam setahun dapat terjadi gempabumi rata-rata 1000 hingga 2000 kali.

Catatan sejarah Gempabumi kuat sejak 1815 menunjukkan bahwa Pulau Bali sudah diguncang gempabumi merusak hingga 60 kali. Beberapa kasus gempabumi merusak yang pernah terjadi di Bali, sebagian besar terjadi di kawasan yang tidak padat penduduknya.

Meski demikian banyaknya korban yang jatuh akibat bencana kebumian ini tetap saja dalam jumlah yang cukup besar. Dibawah ini tiga kejadian gempabumi kuat yang pernah mengguncang Bali dan menimbulkan korban jiwa cukup besar.

Bencana gempabumi dahsyat yang populer oleh masyarakat Bali disebut sebagai “Gejer Bali” terjadi tahun 1815. Tidak ada catatan tanggal dan Bulan yang pasti mengenai bencana tersebut terjadi, karena merupakan catatan sejarah dari pemerintah kolonial Belanda. Namun yang pasti bencana tersebut menelan korban jiwa yang cukup besar, 10.253 orang tewas.

Pada tanggal 21 Januari 1917 gempabumi merusak kembali terjadi dalam skala intensitas IX MMI (Modified Marcalli Intensity), menewaskan 1500 orang. Gempabumi ini menyebabkan terjadinya tanah longsor pada beberapa tempat di Bali sehingga tidak terhitung banyaknya rumah yang hancur.

Terakhir gempabumi yang memakan korban cukup besar adalah gempa Seririt yang terjadi tanggal 14 Juli 1976 yang mengakibatkan 559 orang tewas dan 4158 orang luka parah

Dapat dibayangkan besarnya kerugian yang timbul apabila gempabumi kuat semacam ituterjadi pada saat sekarang di kota-kota besar di Bali dimana banyak gedung-gedung bertingkat penunjang pariwisata, yang perencanaan bangunannya tidak dipersiapkan secara sunguh-sungguh terhadap bahaya gempabumi.

RAWANAN TSUNAMI
Pulau Bali sebagai kawasan yang diapit oleh 2 generator gempabumi, menyebabkan mayoritas gempabumi yang terjadi di Bali dan sekitarnya berpusat di lautan. Tingginya frekuensi gempabumi yang berpusat di laut ini akan memperbesar tingkat resiko tsunami di Bali, jika gempabumi yang terjadi memiliki magnitudo di atas 6.5 Skala Richter, memiliki kedalaman kurang dari 30 kilometer yang terjadi di zona megathrust yang kaya gempabumi dangkal di zona kontak antar lempeng.

Zona megathrust selatan Bali ini sudah terbukti dalam membangkitkan gempabumi yang memicu tsunami di pesisir selatan Sumbawa (1977) dan tsunami Banyuwangi (1994). Posisi Bali yang lokasinya berhadapan dengan Samudera Hindia berada di antara lokasi pembangkit tsunami Sumbawa (1977) dan tsunami Banyuwangi (1994) memiliki peluang yang tinggi terhadap ancaman tsunami, karena kawasan ini dikatakan sebagai zona kesenjangan gempabumi tsunami (tsunamigenic earthquake).

Struktur patahan belakang busur kepulauan yang kini keberadaannya sudah mencapai utara Bali (Daryono, 2000) dibuktikan oleh gempabumi merusak di Seririt (1976). Kenyataan ini akan semakin mengokohkan kita bahwa pesisir utara Bali pun terdapat generator gempabumi kuat akibat patahan naik di belakang busur kepulauan, sehingga akan memperbesar peluang tsunami di Pesisir utara Bali hingga utara Lombok. Tsunami dahsyat produk patahan naik belakang busur kepulauan ini sudah dibuktikan oleh gempabumi yang memicu tsunami Flores (1992). Sehingga keberadaan zona patahan naik yang membangkitkan gempabumi dangkal dengan patahan vertikal akan menjadi ancaman serius di kawasan pesisir utara Bali dan selat Lombok jika kekuatan gempabuminya relatif besar.

Berdasarkan studi mekanisme pembangkit gempabumi untuk mengetahui pola patahan gempabumi di sekitar Bali yang dilakukan McCaffrey (1887), Yazid (1999) dan (Daryono (2000) menunjukkan bahwa perairan di sekitar Bali banyak terdapat persebaran patahan naik yang berpotensi membangkitkan tsunami. Berdasarkan beberapa hal tersebut, di dukung dengan keberadaan Bali yang berada pada Peta Zona Rawan Tsunami maka dapat dikatakan bahwa daerah Bali dan sekitarnya merupakan kawasan yang rawan terhadap ancaman bencana tsunami.

LANGKAH ANTISIPASI

Tingginya tingkat kerawanan gempabumi dan tsunami di Bali, memerlukan langkah antisipasi berupa adanya sistem pemantauan gempabumi yang beroperasi secara kontinyu, terpadu dan real time. Langkah antisipasi sebagai upaya mitigasi bencana dari segi pemantauan aktivitas gempabumi sudah dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika dengan mengembangkan jaringan seismik lokal telemetri dalam proyek Seismological and Communication (SEISCOM). SEISCOM [Seismological Communication] adalah sistem deteksi gempabumi telemetri yang kontinyu, terpadu dan realtime yang dibangun BMG pada tahun 1990.

Disusul kemudian dengan instalasi software lokalisasi gempabumi (SPS-7) dan recorder gempabumi dengan sistem analog pada tahun 1991 yang mampu menentukan parameter gempabumi dalam waktu 20 menit. Jaringan ini terdiri dari 8 sensor seismik yang masing-masing di tempatkan Bukit Srawed (Banyuwangi), Kelatakan (Gilimanuk), Rangdo (Tabanan), Bukit Ungasan (Jimbaran), Yeh Sanih (Buleleng), Bukit Ratta (Nusa Penida), Tanah Aron (Karangasem) dan Bukit Kedondong di Lombok Barat.

Mengingat kerawanan daerah Bali tidak saja disebabkan oleh gempabumi, tetapi gempabumi yang terjadi di laut sekitar Bali juga berpotensi memicu tsunami, maka antisipasi bencana tsunami di daerah Bali menjadi suatu hal yang penting untuk di upayakan dan direalisasikan. Sehingga pada awal tahun 2006, BMKG melakukan penyempurnaan sistem perangkat analisis gempabumi agar dapat menentukan parameter gempabumi secara lebih cepat dan lebih akurat. Dengan beroperasinya FONYX System 2006 yang dilengkapi system database gempabumi, maka jika terjadi gempabumi, parameter gempabumi dapat ditentukan dalam waktu 5 menit. Kecepatan deteksi gempabumi semacam ini merupakan Infrastruktur paling dasar dalam mendukung beroperasinya INATEWS [Indonesia Tsunami Early Warning System] untuk antisipasi & peringatan dini tsunami di Bali dan sekitarnya.

FONYX System memiliki beberapa keunggulan lebih dibandingkan dengan software-software gempabumi yang sudah dioperasikan sebelumnya, seperti kemampuannya dalam mengolah data lebih cepat, interaktif, prosedur operasi yang sederhana namun memberikan hasil parameter yang maksimal. Keunggulan FONYX System 2006 lain adalah mampu menentukan hiposenter gempabumi dalam di atas 300 km dan gempabumi jauh (teleseismic).

FONYX System yang dilengkapi alarm gempabumi dalam optimalisasinya dapat menunjang terwujudnya pembangunan sistem peringatan dini tsunami bagi masyarakat Bali yang tinggal di pesisir pantai. Sehingga, infrastruktur lain yang dibutuhkan adalah adanya menara sirine tsunami untuk penyebaran tanda bahaya tsunami kepada masyarakat pesisir. Untuk ini, maka pada tahun 2006, BMKG telah membangun 6 menara sirine tsunami yang tersebar di beberapa titik lokasi pesisir pantai strategis, sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap ancaman Tsunami.***

PUSTAKA

Daryono. 2000. Identifikasi Patahan Aktif Daerah Bali Berdasarkan Seismisitas Lokal dan Solusi Bidang Sesar. Skripsi S-1. FMIPA Universitas Indosesia.

De Mets, C., R.G. Gordon, D.F. Argus and S. Stein. 1994. Effect of Recent to The Geomagnetics Reversal Time Scale on Estimates of Current Plate Motions, Revisions Geophysical Research Letter, 21, 2191-2194.

Hamilton, W. 1979. Tectonic of the Indonesian Region. U.S. Geological Survey. Profesional Paper 1078, 345 pp.

McCaffrey, R. and J.I Nabelek.1987. Earthquakes, Gravity and The Origin of The Bali Basin: An Example of A Naschent Continental Fold and Thrust Belt. Journal of Geophysical Research, 92, 441-460.

Silver, E.A., N.A. Breen. and H. Prasetyo. 1986. Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt, Indonesia. Journal of Geophysical Research, Vol. 91, No. B3, pp. 3489

Yasid, M. 1999. Studi Seismotektonik Pulau Bali dan Sekitarnya Berdasarkan Relokasi Hiposenter dan Solusi Bidang Sesar.Tugas Akhir. Program Studi Geofisika, Jurusan Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Curriculum Vitae

Posted by Daryono pada Juli 9, 2011

Curriculum Vitae


I. Data Pribadi

Nama : Daryono, S.Si.,M.Si.
Tempat dan tgl. Lahir : Semarang, 21 Pebruari 1971
Golongan darah : O
Agama : Islam
Alamat Rumah : Bulak Macan Permai Blok B No. 33, Harapan Jaya, Bekasi Utara
Alamat Kantor : BMKG, Kantor Pusat : Jl. Angkasa 1 No.2, Kemayoran, Jakarta Pusat – Indonesia
Jabatan : Peneliti
E-mail : darbmg@yahoo.com; daryonobmg@gmail.com
Telfon : 0818565857; 085643380474

II. Pendidikan Dasar

1. 1984: SD Negeri Muncar 1, Kec. Susukan, Kab. Semarang, Jawa Tengah.
2. 1987: SMP Negeri Suruh 1, Kec. Suruh, Kab. Semarang, Jawa Tengah.
3. 1990: SMA Negeri 1, Salatiga, Kodya Salatiga, Jawa Tengah.

III. Pendidikan Tinggi

1. 1993: DIII – Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG), Jakarta.
Riset: Solusi Bidang Sesar Gempabumi Flores 12 Desember 1992.

2. 2000: S1 – Prodi Meteorologi dan Geofisika, Jurusan Fisika, FMIPA,Universitas Indonesia (UI), Depok.
Riset: Identifikasi Sesar Aktif Daerah Bali Berdasarkan Data Seismisitas dan Solusi Bidang Sesar.

3. 2002: S2 – Magiser Lahan Kering di Universitas Udayana (UNUD), Denpasar.
Riset: Sifat Hujan dan Zona Iklim Pulau Bali.

4. 2006: Kandidat Doktor – Program Doktor Ilmu Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Riset: Indeks Kerentanan Seismik Berdasarkan Mikrotremor Pada Setiap Bentuklahan di
Graben Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.

IV. Pengalaman Menulis Artikel Ilmiah Populer

1. Memahami Aktivitas Kegempaan Daerah Bali dan Lombok, Bali Post, 3 Januari 1995.
2. Bencana Alam Gempabumi Kobe, Bali Post, 28 Januari 1995.
3. Globalisasi Banjir dan Hujan, Bali Post, 16 Pebruari1995.
4. Cuaca Buruk dan Bencana Penerbangan, Bali Post, 23 Pebruari 1995.
5. Pelayanan Cuaca Umum, Bali Post, 22 Maret 1995.
6. Sekali Lagi, Gempabumi Mengguncang Denpasar, Bali Post, 22 Maret 1995.
7. Konsep Pembangunan Berkelanjutan, Bali Post, 22 April 1995.
8. Kiat Menghadapi Kemarau 1995, Bali Post, 29 April 1995.
9. Gempabumi dan Tsunami Dilli, Bali Post, 23 Mei 1995.
10. Ancaman Nuklir, Bali Post, 2 Agustus 1995.
11. Denpasar Berpotensi Hujan Lebat, Bali Post, 9 Nopember 1995.
12. Daerah Bali Memang Rawan Gempabumi, Bali Post, 8 Januari 2004.
13. “Globalisasi” Bencana Cuaca, Bali Post, 10 Pebruari 2004.
14. Gangguan Sistem Cuaca di Atmosfir Kita, Bali Post, 19 Pebruari 2004.
15. Demam Berdarah Berbasis Perubahan Iklim, Bali Post, 27 Pebruari 2004, Daryono.
16. Faktor Cuaca dalan Kecelakaan Penerbangan, Bali Post, 2 Desember 2004.
17. Aspek Seismisitas dan Tektonik di Alor, Kompas, 16 Desember 2004.
18. Bencana Tsunami di Akhir Tahun, Bali Post, 28 Desember2004.
19. Prediksi dan Gejala Awal Tsunami, Bali Post, 10 Januari 2005.
20. Aktivitas Gunung Berapi dan Gempabumi, Bali Post, 4 Maret 2005.
21. Perbedaan Karakteristik Gempabumi di Sumatera dan Bali, Bali Post, 31 Maret 2005.
22. Small Chance of a Large Eathquake in Bali, The Bali Times, 1 April 2005.
23. Faktor Penyebab Kecelakaan Penerbangan, Bali Post, 7 September 2005.
24. Gempabumi Dahsyat Produk Benturan Anak Benua, Bali Post, 11 Oktober 2005.
25. Memasuki Musim Cuaca Ekstrim, Bali Post, 19 Oktober 2005.
26. Ancaman Banjir dan Tanah Longsor, Bali Post, 15 Desember 2005.
27. Pemanfaatan Teknologi Untuk Kendalikan Banjir, Bali Post, 23 Januari 2006.
28. Memahami Angin Puting Beliung, Kedaulatan Rakyat, 22 Pebruari 2006.
29. Guncangan Dahsyat di Busur Jawa, Bali Post, 30 Mei 2006.
30. Mengenal Zona Rawan Gempabumi Daerah Bali, Bali Post, 2 Juni 2006.
31. Mengenal Ganasnya Arus Laut Selat Lombok, Bali Post, 11 Juli 2006.
32. Selat Bali Bukan Ancaman Gempabumi Dahsyat, Bali Post, 18 Juli 2006.
33. Jutaan Tahun Mendatang, Indonesia Menyatu dengan Australia, Tabloid Tokoh, 20-26 Agustus 2006.
34. Peranan BMKG dalam Penanggulangan Bencana Alam, Majalah Suara Keadilan, Edisi Januari 2007.
35. Memahami Angin Puting Beliung, Kedaulatan Rakyat, 22 Pebruari 2007.
36. Mengenal Daerah Rawan Puting Beliung, Bali Post, 26 Pebruari 2007.
37. Mewaspadai Gejala Awal Puting Beliung, Suara Merdeka, 3 Maret 2007.
38. Memahami Aktivitas Badai Tropis, Bali Post, 10 Maret 2007.
39. Gejala Awal Puting Beliung, Jawa Pos, 14 Maret 2007.
40. Gejala Awal Puting Beliung, Riau Pos, 3 April 2007.
41. Puting Beliung, Kedaulatan Rakyat,12 Nopember 2008.
42. Alor Menumpang di Batas Pertemuan Lempeng Tektonik, Majalah Spirit NTT, 2008.
43. Jawa Barat Memang Rawan Gempabumi, Kedaulatan Rakyat, 5 Sptember 2009.
44. Zona Rawan Gempabumi di Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat, 12 September 2009.
45. Saling Picu Gempabumi Jawa dan Sumatera, Kedaulatan Rakyat, 3 Oktober 2009.
46. Sejarah Panjang Gempabumi di Padang, Jawa Pos, 3 Oktober 2009.
47. Waspadai Udara Panas dan Puting Beliung, Jawa Pos, 29 Oktober 2009.
48. Memahami Bahaya Arus Laut Pantai Parangtritis, Kedaulatan Rakyat, 19 Pebruari 2010.
49. Mitigasi Bencana Banjir, Jawa Pos, 23 Pebruari 2010.
50. Gempabumi Bantul Dipicu Oleh Sesar Aktif, Kedaulatan Rakyat, 24 Agustus 2010.
51. Udara Panas dan Prospek Musim Hujan, Kedaulatan Rakyat, 6 September 2010.
52. Hujan di Musim Kemarau Dampak La Nina, Kedaulatan Rakyat, 25 September 2010.
53. Kaitan Gempabumi Tektonik dan Aktivitas Gunungapi, Kedaulatan Rakyat, 1 November 2010.
54. Merapi Akan Tetap Aktif di Zona Seismik Aktif, Kedaulatan Rakyat, 6 November 2010.
55. Mengapa Merapi Sangat Aktif?, Radar Jogja, 6 November 2010.
56. Dibalik Sangat Aktifnya Merapi, Jawa Pos, 6 November 2010 .
57. Waspadai Ancaman Banjir Lahar Merapi di Puncak Musim Hujan, Kedaulatan Rakyat, 8 Januari 2011.
58. Mewaspadai Banjir Lahar Gunung Bromo, Jawa Pos, 12 Januari 2011.
59. Ancaman Banjir Lahar Merapi, Suara Merdeka, 14 Januari 2011.
60. Memahami Bahaya Banjir Lahar, Kedaulatan Rakyat, 17 Januari 2011.
61. Mewaspadai Bahaya Sekunder Merapi, Suara Merdeka, 28 Januari 2011.


V. Pengalaman Presentasi dan Pembicara Seminar

1. 14 April 2005: Gempabumi, Tsunami, dan Mitigasinya, disampaikan pada Seminar Regional Badan Interaktif Sosial Kemasyarakatan, Hotel Ahmad Yani, Denpasar.

2. 28 April 2005: Kerawanan Gempabumi dan Tsunami Daerah Nusatenggara Barat, disampaikan pada Kunjungan Perwakilan PT. Newmont Nusa Tenggara di Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah III, Denpasar.

3. 10 Mei 2005: Bencana Cuaca, Gempabumi dan Mitigasinya, disampaikan pada Pelatihan Satuan Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi, Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Bali.

4. 15-20 Mei 2005: Peranan Badan Meteorologi dan Geofísika dalam Penanggulangan Bencana Alam, disampaikan pada Pertemuan Sosialisasi Fungsi Perlindungan Masyarakat Provinsi Bali, Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi, Hotel Wito, Denpasar.

6. 30 Mei 2005:Pengetahuan Meteorologi dan Geofisika, disampaikan pada acara Pelatihan Satuan Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

7. 7 Juni 2005: Mitigasi Bencana Cuaca dan Gempabumi, disampaikan pada Pelatihan Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi, Badan Kesbanglinmas Daerah Bali.

8. 20 Juni 2005: Peranan Badan Meteorologi dan Geofísika dalam Menunjang Usaha Pariwisata, disampaikan pada Seminar Pelayanan Pramuwisata PT. Harum Indah Sari (HIS) Tour & Travel untuk Keselamatan dan Kepuasan Wisatawan, Gedung HIS, Denpasar, Bali.

9. 28 Juni 2005: Mengantisipasi Bahaya Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada Sosialisasi Fungsi Perlindungan Masyarakat Provinsi Bali, Badan Kesbanglinmas Daerah Bali, di Hotel Dermawan Denpasar.

10. 24 Juli 2005: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada Pelatihan Tim Reaksi Cepat Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, Badan Kesbang dan Linmasda, Povinsi Bali.

11. 30 Agustus 2005: Potensi dan Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika dalam Pelayanan Jasa Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, disampaikan pada Kuliah Terbuka Mahasiswa FMIPA Jurusan Fisika, Universitas Udayana, Denpasar.

12. 3 September 2005: Kerawanan Gempabumi dan Tsunami Daerah Bali, disampaikan pada Seminar Bencana Alam dan Penanggulangannya, Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Bali, di Hotel Wito Denpasar.

13. 5-9 September 2005: Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami serta Sistem Pemantauannya, disampaikan pada Pelatihan Pemantapan Dapur Umum, Dinas Kesejahteraan Provinsi Bali, di Hotel Puri Kedaton, Denpasar.

14. 13 September 2005: Pengetahuan Gempabumi, Tsunami, Meteorologi dan Klimatologi, disampaikan pada Pelatihan Pemantapan Taruna Siaga Penanggulangan Bencana, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

15. 20 September 2005: Memahami Bahaya Gempabumi dan Tsunami serta Mitigasinya, disampaikan pada Pelatihan Pemantapan Taruna Siaga Penanggulangan Bencana. Dinas Kesejahteraan Sosial, di Hotel Puri Kedaton, Denpasar.

16. 13 Oktober 2005: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada Pelatihan Tanggap Bencana Alam, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

17. 19 Oktober 2005: Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika dalam Penanggulangan Bencana Alam, disampaikan pada Pemantapan Koordinasi Inter dan Antar Sektor Penanggulangan Bencana Bidang Bantuan Sosial, Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Bali, di Hotel Batukaru Garden, Denpasar.

18. 15 Nopember 2005: Potensi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami Daerah Bali, disampaikan pada Pemantapan Instruktur Penanggulangan Bencana, Dinas Kesejahteraan Sosial Provinsi Bali, Hotel Dewi Karya, Denpasar.

19. 22 Nopember 2005: Potensi Bencana Alam Gempabumi dan Mitigasinya di Provinsi Bali, disampaikan pada Pelatihan Pemantapan Prosedur Tetap Penanggulangan Bencana Alam di Hotel Batukaru Denpasar, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

20. 16 s/d 20 Januari 2006: Pengetahuan Seismologi dan Sistem Lokalisasi Gempabumi Menggunakan Fonyx System, disampaikan pada training upgrading untuk para operator pengamat gempabumi di Pusat Gempa Regional III, Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Denpasar.

21. 16 Pebruari 2006: Pemahaman Tentang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, disampaikan pada Kunjungan Yayasan Tawakkal dan Tawakkal Full Day School ke Balai Besar Meteorologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar.

22. 24 Pebruari 2006: Sistem Pemantauan Gempabumi dan Tsunami di Daerah Bali, disampaikan pada Rapat: Preliminary Study on the Natural Disaster Management in Indonesia, Kantor Gubernur Provinsi Bali.

23. 16 Maret 2006: Mengantisipasi Bahaya Gempabumi dan Tsunami di Daerah Bali, disampaikan pada Seminar Iklim dan Kelautan, Seacorm, Balai Riset dan Kelautan-Badan Meteorologi dan Geofisika, Perancak, Jembrana, Bali.

24. 22 Maret 2006: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada Rapat Koordinasi antara Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Provinsi Bali dengan Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Kabupaten/Kota se-Bali, di Hotel Dermawan, Denpasar Bali.

25. 19 April 2006: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada acara Pemantapan Satgasos Penanggulangan Bencana Bidang Bantuan Sosial, di Hotel Batukaru Garden Denpasar, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

26. 17 Mei 2006: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada acara Pelatihan Mitigasi Bencana Alam, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

27. 19 Juni 2006: Pengetahuan Tentang Gempabumi dan Tsunami serta Mitigasinya, disampaikan pada acara Sarasehan Kearifan Lokal Daerah Rawan Bencana, Dinas Kesejahteraan Sosial, Provinsi Bali.

28. 22 Juni 2006: Sistem Jaringan Pemantauan Gempabumi dan Tsunami untuk Mengurangi Risiko Bencana, disampaikan dalam acara seminar tentang Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami di Rumah Sakit Ari Canti bekerjasama dengan Yayasan I Ketut Alon, Ubud, Bali.

29. 24 Juni 2006: Kondisi Tektonik dan Kerawanan Gempabumi Daerah Bali, disampaikan pada Seminar Kerawanan Gempabumi Daerah Bali dan Manajemen Penanganannya, di Kantor Harian Umum Nusa Bali, Denpasar.

30. 10 s/d 17 Juli 2006: Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika dalam Penanggulangan Bencana Alam di Indonesia, disampaikan pada Pembekalan Tim Reaksi Cepat Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Penanggulangan Pengungsi (TRC Satkorlak PBP) Provinsi Bali.

31. 3 Agustus 2006: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan dalam acara Simulasi Penanganan Bencana Gempabumi dan Tsunami, Kepolisisn Negara Republik Indonesia, Daerah Bali, Kota Besar Denpasar.

32. 4 Agustus 2006: Sistem Pemantauan Gempabumi dan Tsunami Daerah Bali, disampaikan pada Latihan SAR dalam kunjungan kerja Komisi V DPR RI di Bali, Badan SAR Nasional, Kantor Search and Rescue Denpasar.

33. 7 Agustus 2006: Gempabumi dan Tsunami, Siapkah Bali Menghadapinya?, disampaikan pada acara Talk Show Radio 911 Suara Janger, Gedung Call Center Polda Bali.

34. 8 Agustus 2006: Mitigasi Bahaya Gempabumi dan Tsunami, disampaikan dalam acara Rapat Penanggulangan Emergency Plan Tsunami dan Open Discussion dengan The Indonesia-Australia Aviation Security Capacity Building Project (IAAP), Kantor Administrator Bandar Udara Ngurah Rai, Bali.

35. 10 Agustus 2006: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada acara Pelatihan Antisipasi Tejadinya Gempabumi dan Tsunami, Hotel Melia Benoa, Nusa Dua, Bali.

36. 11 Agustus 2006: Bagaimana Menghadapi Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada Sosialisasi Mitigasi Gempabumi dan Tsunami di Sekolah Dasar Cipta Dharma Denpasar, Bali.

37. 12 Agustus 2006: Kerawanan Gempabumi dan Tsunami Daerah Bali serta Mitigasinya, disampaikan dalam acara Kuliah Umum di Fakultas Pertanian, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Bali.

38. 14 Agustus 2006: Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada acara Seminar Sehari Masalah Gempabumi dan Tsunami di Kantor Kabupaten Buleleng, Bali.

39. 16 Agustus 2006: Mitigasi Bencana Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada Seminar Sehari Kesiapsiagaan Provinsi Bali dalam Menghadapi Bencana Alam, Kelompok Kajian Bencana, Pusat Penelitian Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali.

40. 23 Agustus 2006: Pengetahuan Cuaca, Gempabumi dan Tsunami, disampaikan pada acara kunjungan Canggu Community School, Yayasan Swamitra Internasional, Bali ke Kantor Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III, Bali.

41. 25 Agustus 2006: Mitigasi Bencana Gempabumi dan Angin Ribut, disampaikan pada Pembekalan Satuan Pelaksana Penanganan Bencana (Satlak PB) Kabupaten Bangli, Sekretariat Daerah, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

42. 25 September 2006: Kerawanan Gempabumi dan Tsunami Daerah Bali Serta Pemantauannya, disampaikan pada Rapat Koordinasi Satkorlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi dan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Kabupaten/Kota se-Bali, Badan Kesbang & Linmasda, Provinsi Bali.

43. Mei 2007: Perubahan Iklim dan Penyebabnya, Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Manajemen Dampak Pergeseran Iklim Global dalam Pelestarian Lingkungan Hidup, Universitas Negeri Yogyakarta.

44. Mei 2008: Fenomena Enso Iklim Ekstrim dan Dampaknya dalam Pertanian, disampaikan pada TOT Iklim, Water Resources and Irrigation Sector Management Program, Hotel Brongto, Dinas Pertanian, Daerah Istimewa Yogyakarta.

45. 23 Mei 2007: Fenomena Enso, Iklim Ekstrim, dan Dampaknya pada Pertanian, disampaikan pada Diklat Sekolah Iklim Lapang untuk Para Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

46. 23 Mei 2007: Kondisi Iklim dan Perubahannya, disampaikan pada Diklat Sekolah Iklim Lapang untuk Para Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

47. 23 Mei 2007: Bentuk Layanan Iklim dan Istilah dalam Prakiraan Musim, disampaikan pada Diklat Sekolah Iklim Lapang untuk Para Penyuluh Pertanian, Dinas Pertanian, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

48. 22-25 Juni 2007: Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika dalam Penanggulangan Bencana Alam, disampaikan pada acara Young Disaster Mitigation Envoy, Keluarga Alumni Resimen Mahasiswa, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

49. 5 Juli 2007: Cuaca dan Iklim, disampaikan pada acara Pelatihan Sekolah Iklim Lapang, Dinas Pertanian, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

50. April 2008: Peranan Badan Meteorologi dan Geofisika dalam Pemantauan Perubahan Iklim Global dipresentasikan pada Ceramah Ilmiah dalam Peringatan Hari Bumi 2008 Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi UPN “Veteran”Yogyakarta.

51. April-Juni 2008: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami, disampaikan dalam Sosialisasi Daerah Rawan Bencana, Dinas P3BA, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

52. 10 Juni 2008: Pergeseran Musim dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan di Yogyakarta, disampaikan pada Seminar Nasional Geografi-Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta.

53. 22 Januari 2009: Local Site Effect of Graben Bantul Based on Microtremor Measurement for Seismic Hazard Assessment, Scientific Journal Club, Meteorological and Geophysical Agency, Jakarta.

54. 30-31 Januari 2009: Local Site Effect of Graben Bantul Based on Microtremor Measurement for Seismic Hazard Assessment, International Conference on Geoinformation Technology for Natural Disaster Management and Rehabilitation, Rama Garden Hotel, Bangkok, Thailand.

55. 19 Pebruari 2009: Efek Tapak Lokal di Graben Bantul Menggunakan Pengukuran Mikrotremor untuk Pengkajian Bahaya Gempabumi, disampaikan pada acara Seminar Refleksi 1000 hari Bencana Gempabumi Yogyakarta 27 Mei 2006, Senat Akademik dan LPPM Universitas Gadjah Mada, kerjasama dengan Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

56. 26 Pebruari 2009: Pengetahuan Seismologi dan Gempabumi, disampaikan pada acara Pembekalan Peserta Olimpiade Geosains di Taiwan, Fakultas Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

57. 20 Maret 2009: Dasar-Dasar Mitigasi Bencana Angin Ribut, disampaikan pada Diklat Mitigasi Bencana Bagi Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul Bekerjasama dengan Pusat Studi Bencana (PSBA), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

58. 29 April 2009: Bencana Alam Dampak Pemanasan Global, disampaikan pada acara Halaqah Keilmuan Himmpas dalam rangka Hari Bumi ke-39, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (Himmpas) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

59. 6-7 Agustus 2009:Local Site effect of Graben Bantul Based on Microtremor Measurement, disampaikan pada acara Iternational Conference Earth Science and Technology, Department of Geological Engineering, Gadjah Mada University.

60. 20 Agustus 2009: Manajemen Bencana Alam Gempabumi, disampaikan pada Pelatihan Tenaga Pendamping Masyarakat untuk Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana, Kerjasama antara Departemen Sosial Republik Indonesia dengan Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

61. 5-7 Oktober 2009: Risks in Yogyakarta Seismic Hazard Map disampaikan pada National Workshop Implementing outcome of School Earthquake Safety Initiatives (SESI) into Society: Disaster Education and Retrofitting for Sustainable Community, Gadjah Mada University, Yogyakarta, Provincial Government of Yogyakarta Special Region and United Nations Centre for Regional Development (UNCRD).

62. 24 Oktober 2009: Belajar dari Kejadian Gempabumi Tasikmalaya 2 September 2009 dan Gempabumi Pariaman 30 September 2009 disampaikan pada Seminar Bulanan dengan tema Mengantisipasi Ancaman Multi-Bencana di DIY: Belajar dari Ancaman Sekunder Gempabumi Padang dan Tasikmalaya, Pusat Studi Bencana Alam (PSBA), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

63. 21 s/d 25 November 2009: Mitigasi Bencana Alam Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Maumere disampaikan pada Gladi Simulasi Tanggap Darurat Bencana Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Sikka, NTT, Pusat Studi Bencana Alam, Universitas Gadjah Mada.

64. 20 Desember 2009, Standar Operasional Prosedur Pengurangan Risiko Bencana Gempabumi dan Tsunami disampaikan pada Seminar Hasil Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana Tahun 2009, Pusat Studi Bencana (PSBA), Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

65. 8 November 2010. Memahami Gunung Merapi disampaikan pada Pelatihan Pembekalan bagi Tim Relawan Mahasiswa UGM.

66. Desember 2010. Aktivitas Seismik di Yogyakarta Menjelang Erupsi Merapi, disampaikan pada Scientific Journal Club Seminar, Meteorological and Geophysical Agency, Jakarta.

67. Desember 2010, Peta Kerawanan Bencana Gempabumi Kabupaten Bantul Berbasis Analisis Multikriteria disampaikan pada acara Sosialisasi Hasil-Hasil Penelitian Puslitbang BMKG.

68.17 Desember 2010. Perubahan Iklim: Memahami Global Warming dan Global Cooling, disampaikan dalam Stadium Generale di Fakultas Kehutanan UGM.

69.19 Desember 2010, Aktivitas Gempabumi Tektonik di Yogyakarta Menjelang Erupsi Merapi 2010, disampaikan pada Seminar Kebumian, kerjasama Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM, Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana UGM (Himmpas UGM) dan Geografi Study Club UGM (GSC UGM).

70. 6 Pebruari 2011, Juri Olimpiade Geografi Nasional dengan tema Kontribusi Geografi terhadap Upaya Mitigasi Bencana dan Pengelolan Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia, Fakultas Geografi UGM.

71. 15 Mei 2011, Memahami Gempabumi Tektonik dan Mitigasinya, disampaikan pada acara Peringatan Hari Bumi 2011 di Fakultas Geografi UGM.

72. 4 Juni 2011, Paradigma Baru Mengenai Global Warming, disampaikan pada acara Peringatan Hari Bumi 2011 di Fakultas Geografi UGM.

73. 21-25 Juni 2011, Potensi Bencana Tsunami di Kabupaten Pasaman Barat dan Mitigasinya, disampaikan pada Kegiatan Pulau-Pulau Kecil yang Siap Bencana, Program pengelolaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

73. 5-9 Juni 2011, Potensi Bencana Tsunami di Kabupaten Sulawesi Utara dan Mitigasinya, disampaikan pada Kegiatan Pulau-Pulau Kecil yang Siap Bencana, Program pengelolaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
:
VI. Pengalaman Menerbitkan Buku
1. 10 Kunci Penyelamatan Saat Terjadi Gempabumi dan Tsunami, Bina Media Informasi, Bandung.

2. Penaksiran Multirisiko Bencana di Wilayah Kepesisiran Parangtritis. Bab IV. Bencana Gempabumi, Penerbit Pusat Studi Bencana PSBA UGM.

3. Multirisk Assessment of Disasters in Parangtritis Coastal Area, Chapter 4. Earthquake, Gadjah Mada University Press.

4. Petir Ancaman yang Terabaikan (Penyunting), Pusat Studi Bencana PSBA UGM.


VII. Pengalaman Menulis Jurnal Ilmiah

1. Daryono, 2003, Evaluasi Zona Agroklimat Oldeman Daerah Bali Berdasarkan Pemutakhiran Data Curah Hujan Hingga tahun 2000. Jurnal Agritrop, Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Vol. 22 No. 3 September 2003.

2. Daryono,2005, Iklim Bali Ditinjau dari Isohyets Normal Curah Hujan, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, VoL. 6. No.3. September 2005.

3. Evi Luthfiati & Daryono, 2005, Prakiraan Curah Hujan Menggunakan Metoda Jaringan Syaraf Tiruan, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, VoL. 6. No.3. September 2005.

4. Daryono dan Yani Sumiana, 2005, Pemutakhiran Zona Agroklimat Oldeman Provinsi Kalimantan Tengah, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, VoL. 6. No.3. September 2005.

5. Bagus Haryo Wibowo dan Daryono, 2005, Penentuan Awal Tanam Tanaman Jagung di Lahan Kering Bukit Jimbaran, Bali, Jurnal Meteorologi dan Geofisika,VoL. 6. No.3. September 2005.

6. Daryono, 2006, Pola Curah Hujan dan Neraca Air Kota Denpasar, Jurnal Lingkungan Hidup Bumi Lestari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Udayana. Vol. 6 No. 1.

7. Daryono dan Yani Suriana, 2006, Analisis Surplus dan Défisit Air Lahan Daerah Lahan Kering Jembrana, Bali Barat.

8. Daryono, 2008, Seismisitas dan Solusi Bidang Sesar Daerah Bali untuk Identifikasi Sesar Sungkup Belakang Busur, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol. 4 No. 3 September 2008.

9. Daryono et al., 2009, Local Site Effect of Graben Bantul Based on Microtremor Measurement for Seismic Hazard Assessment, Proceedings of International Conference on Geoinformation Technology for Natural Disaster Management and Rehabilitation, Bangkok, Thailand.

10. Daryono et al., 2009, Pengkajian Local Site Effect di Graben Bantul Menggunakan Indeks Kerentanan Seismik Berdasarkan Pengukuran Mikrotremor, Jurnal Kebencanaan Indonesia, Vol. 2 No. 1, Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

11. Daryono et al., 2009, Local Site effect of Graben Bantul Using Microtremor Measurement, Proceedings of International Conference Earth Science and Technology, Department of Geological Engineering, Gadjah Mada University.

12. Daryono, 2008, Seismisitas dan Solusi Bidang Sesar Daerah Bali untuk Identifikasi Sesar Sungkup Balakang Busur, Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol. 4 No. 3 September 2008.

13. Daryono et al., 2009, Gempabumi Tasikmalaya, Jurnal Kebencanaan Indonesia, Vol. 2 No. 2, November 2009, Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

14. Daryono, 2010, Aktivitas Seismisitas Menjelang Erupsi Gunung Merapi, Journal Club, BMKG.


VIII. Pengalaman Penelitian

1. 2000: Identifikasi Patahan Aktif Daerah Bali Berdasarkan Seismisitas dan Solusi Bidang Sesar, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Indonesia, Depok.

2. Desember 2001: Prediksi Erosi dan Perencanaan Konservasi Daerah Payangan, Gianyar Bali, Magister Lahan Kering, Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

3. 2002: Identifikasi Unsur Iklim, Sifat Hujan dan Evaluasi Zona Agroklimat Oldeman dan Schmidt Ferguson Berdasarkan Pemutakhiran Data. Magister Lahan Kering, Universitas Udayana, Denpasar.

4. 2004: Anggota tim peneliti Identifikasi Daerah Prakiraan Musim untuk Perencanaan Pertanian di Provinsi Bali. Proyek Kerjasama Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III dengan BPTP Bali.

5. Maret 2005-Maret 2006: Anggota tim peneliti dalam Proyek Penelitian Interaksi Dipole Mode Lautan Hindia, Enso dan Monsoon Beserta Dampak Sosio-Ekonominya, Badan Meteorologi dan Geofísika, Jakarta.

6. Januari-Agustus 2006: Anggota tim kegiatan pendataan daerah rawan bencana alam dan pemasangan rambu-rambu larangan rawan bencana alam serta pemetaan daerah rawan bencana ke Kabupaten/Kota se Bali, Badan Kesbang dan Linmasda Provinsi Bali.

7. Mei 2006: Anggota tim survei lapangan untuk menentukan lokasi penempatan tower sirine peringatan dini tsunami di Daerah Bali.

8. 2007-sekarang: Anggota tim proyek penelitian Risk Management Information System (RIMSY) Project of Yogyakarta, Fakultas Geografi UGM dan Innsbruck University of Austria.

9. 2009-sekarang: Anggota tim proyek penelitian Multi Risk Disaster Segitiga Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta.

10. 5 September 2009: Survey Gempabumi Tasikmalaya, Jawa Barat bersama Tim Pusat Studi Bncana Alam Universitas Gadjah Mada.

11. September 2009: Anggota Tim Penyusun Draft Naskah Akademik Penanggulangan Bencana Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

12. 23-27 September 2009: Survey Gempabumi Padang bersama Tim Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada.

13. 21 s/d 25 November 2009: Anggota Tim Gladi Simulasi Tanggap Darurat Bencana Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Sikka, NTT, Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada.

14. 1-5 Desember 2009: Anggota Tim Survey Multirisiko Bencana Alam di Kabupatan Banggai, Sulawesi Tengah. Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada.

15. 2009. Anggota Tim Peneliti Strategi Pengurangan Risiko Multibencana melalui Mitigasi dan Adaptasi di Wilayah Jawa Tengah (Studi Kasus Zona Utara Pulau Jawa). Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada.

16. 2010. Anggota Tim Peneliti Strategi Pengurangan Risiko Multibencana melalui Mitigasi dan Adaptasi di Wilayah Provinsi DIY dan Jawa Tengah (Studi Kasus Zona Selatan Pulau Jawa). Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada.

17. 2010. Anggota Tim Peneliti Penyusunan Bahaya Gempabumi Daerah Bantul Berdasarkan Analisis Multikriteria. Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Jakarta.

18. 2010. Anggota Tim Penyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk Bencana Banjir, Gempabumi, Tsunami, Tanah Longsor, dan Letusan Gunungapi. PSBA UGM-BNPB-DIKTI.


IX. Pengalaman Training,Workshop dan Seminar

1. 22 Maret 1992: Seminar Hari Meteorologi Dunia “Public Weather Service”, Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III, Bali.

2. Jun.s/d Sep. 1996: Training Analisis Data Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.
2 Juni 2001: International Seminar on “Dryland Agriculture”, Adelaide University, Australia dengan Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

3. 8 Oktober 2001: Seminar Hari Meteorologi Dunia Tema “Pemanfaatan Parameter Gempabumi dari PGN di Stasiun Geofisika”, Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III, Bali.

4. 28 Oktober 2000: Training on “Earthquake Observation System, Badan Meteorologi dan Geofisika dan PT. Mitra Integrasi Informatika.

5. 25 Maret 2002: Seminar Hari Meteorologi Dunia “Reducing Vulnerability to Weather and Climate Extremes”, Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III, Bali.

6. 29-30 Maret 2004: Pelatihan “Aplikasi Model Prediksi Iklim (Wavelet) dan Kelautan (WinWaves) untuk Peningkatan Sistem Data dan Informasi”, Balai Meteorologi dan Geofisika Wilayah III, Bali.

7. 8 s/d 11 Agustus 2005: Training “Database Iklim dan Sistem Informasi Geografis”, Badan Meteorologi dan Geofisika, Denpasar, Bali.

8. 5 s/d 10 Desember 2005: Training on “System Data and Processing”. Badan Meteorologi dan Geofisika; PT. Mindotama Avia Teknik.

9. 16 Maret 2006: Seminar “Iklim dan Kelautan ” Seacorm, Balai Riset dan Kelautan – Badan Meteorologi Geofisika, Perancak, Jembrana, Bali.

10. 18-19 April 2006: Sosialisasi Pemahaman Bencana Gempabumi dan Tsunami di Provinsi Bali Bagi Pendidik, Pelajar dan Umum, di Hotel Sahid, Kuta, Bali.

11. 22 Juli 2006: Seminar Nasional “Pembangunan Pertanian Lahan Kering Menuju Petani Sejahtera”, Program Studi Magister Pertanian Lahan Kering, Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

12. 8-9 Agustus 2006: Pelatihan Prediksi Prakiraan Musim Dengan Model Wavelet dan Anfis Berbasis Matlab, Badan Meteorologi dan Geofisika, Jakarta.

13. 25 November 2006: Seminar Nasional Pelacakan Valuasi Risiko Bencana, Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

14. 8 Mei 2007: Seminar Nasional Refleksi Satu Tahun Bencana GempabumiYogyakarta 27 Mei 2006-27 Mei 2007 denga Tema Pendidikan Kebencanaan dan Kebangkitan Masyarakat Pascabencana Gempabumi 27 Mei 2006, Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

15. 23 Mei 2007: Seminar Nasional Manajemen Dampak Pergeseran Iklim Global dalam Pelestarian Lingkungan Hidup, Himpunan Mahasiswa Geografi Universitas Negeri Yogyakarta.

16. 21-23 Juli 2008: Risk Managemant Workshop, Alps-centre for Natural Hazard & Risk Management and The Faculty of Geography, Gadjah Mada University, Yogyakarta.

17. 25-29 Agustus 2008: International Conference on Geomorphology “The Role of Geomorphology in Environtmental Management”, Department of Environtmental Geography, Faculty of Geography, Gadjah Mada University, Yogyakarta.

18. 17 Nopember 2008: Workshop Geo-Campus, State of The Art Remote Sensing “Pengalaman Pemanfaatan Landsat dan ALOS untuk Pemanfaatan SDA dan LH, Kerjasama Puspics UGM dan Bakosurtanal.

19. 29-30 Juni 2009: Seminar Diseminasi Hasil Penelitian Doktor Staf Pengajar Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan tema “Penguatan Ilmu Geografi untuk Pembangunan Wilayah dan Lingkungan”. Diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke-46 Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada.

20. 22-24 July 2009: Workshop and Training “Local Government Network on Disaster Risk Reduction”, Institute for Research and Community Services, University Gadjah Mada, Yogyakarta.

21. August 6-7, 2009: International Conference on Earth Science and Technology, Dept. of Geological Engineering, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University.

22. October 20-22, 2009: The International Seminar on Disaster: Theory, Research, and Policy. The Graduate School, Gadjah Mada University

23. November 4-5, 2009: Regional Workshop “Action for Effective Management of Post Disaster Recovery, Dept. of Architecture and Planning UGM.

24. 5 Desember 2009, Seminar Nasional Kebencanaan Sistem Informasi Kebencanaan Sebagai Sebuah Kearifan di Negeri 1001 Bencana, EGSAFAIR, Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

25. 25. 20 Desember 2009, Seminar Hasil Kegiatan Pengurangan Risiko Bencana Tahun 2009, Pusat Studi Bencana (PSBA), Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta.

26. 31 Mei 2010, Workshop LUPIS Indonesia, Fakultas Geografi UGM.

27. 2 Juni 2010: Seminar Refleksi 4 Tahun Gempabumi Yogyakarta untuk Pengurangan Risiko Bencana.
28. 13 Oktober 2010, Seminar Nasional Perubahan Iklim Indonesia, Mitigasi dan Strategi dari Tinjauan Multi Disiplin, UGM-BNPB-ISDR-UN-DKP.

28. 19-20 Oktober: Workshop Nasional Penyusunan S.O.P. Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat Bencana di Indonesia. diselenggarakan oleh DP2M-Dikti Kemendiknas-UGM-BNPB.

29. November 2009, Workshop Nasional Alat Pendeteksi Gempabumi, Dinas PU, Perumahan, dan ESDM – PSBA UGM.

30. 10 s/d 13 Januari 2011: Training Standar Sistem Manajemen Keadaan Darurat (SSMKD), John A. Montanio, International Criminal Investigative Training Assistance Program Unites States Departement of Justice (ICITAP).

Demikian Curriculum Vitae ini kami buat dengan sesungguhnya.
Yogyakarta, Mai 2011

Pembuat,

Daryono, S.Si.,M.Si.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.