Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

MEMAHAMI GEMPABUMI SWARM DI HALMAHERA BARAT

Posted by Daryono pada Desember 6, 2015

AKTIVITAS gempabumi yang berlangsung terus menerus di Halmahera Barat, sejak awal November 2015 hingga 5 Desember 2015 masih terjadi. Total aktivitas gempabumi sudah mencapai 1001 kejadian dengan kekuatan kurang dari M=5,0 Skala Richter.

Peta aktivitas gempabumi Halmahera Barat hasil pemutakhiran data hingga 5 Desember 2015 menunjukkan aktivitas seismic terkonsetrasi di daerah Jailolo dan sekitarnya. Aktivitas seismik ini unik, membentuk klaster seismisitas yang berpusat di Gunung Jailolo dan sekitarnya.

Banyak pertanyaan warga yang dilontarkan kepada BMKG mengenai fenomena tingginya aktivitas gempabumi yang membuat cemas masyarakat ini. Untuk menjawabnya, kita perlu mengenali beberapa tipe gempabumi terlebih dahulu.

GEMPABUMI SWARM
Ahli seismologi Jepang, Kiyoo Mogi (1963) mengklasifikasikan gempabumi dalam 3 (tiga) tipe. Gempabumi Tipe I, dicirikan dengan munculnya gempabumi utama (mainshock) yang kemudian diikuti oleh sejumlah gempabumi susulan (aftershocks) dengan kekuatan dan frekuensi kejadian yang terus mengecil.

Gempabumi Tipe II, dicirikan dengan munculnya serangkaian gempabumi kecil sebagai pendahuluan (foreshocks), kemudian terjadi gempabumi utama dengan kekuatan yang besar, dan selanjutnya diakhiri oleh sejumlah gempabumi susulan dengan kekuatan dan frekuensi kejadian yang terus mengecil.

Gempabumi Tipe III, dicirikan dengan kemunculan serangkaian aktivitas gempabumi bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi, berlangsung dalam waktu lama di suatu kawasan sangat lokal, tanpa adanya gempabumi kuat sebagai gempabumi utama. Aktivitas gempabumi semacam ini oleh Kiyoo Mogi disebut sebagai gempabumi swarm.

Jika kita mengamati perkembangan aktivitas seismik yang sedang berlangsung di Halmahera Barat, maka kita dapat memahami bahwa fenomena yang sedang terjadi merupakan gempabumi tipe III, yaitu aktivitas swarm.

Aktivitas gempabumi yang berlangsung menarik untuk dicermati. Rentetan gempabumi seolah tiada henti ini tidak ada satupun gempabumi kuat yang menonjol sebagai gempabumi utama. Sulit untuk mengenali mana gempabumi pendahuluan, gempabumi utama, dan susulannya, karena magnitudonya memang hampir seragam, kurang dari M=5,0 Skala Richter.

Pada beberapa kasus swarm terjadi di zona gunungapi. Swarm dapat terjadi di kawasan yang mengalami medan tegangan berkaitan dengan desakan aktivitas magmatik. Jika ditinjau kawasan yang dilanda gempabumi, ternyata pusat-pusat gempabumi berkedalaman dangkal ini membentuk klaster yang terkosentrasi di Gunung Jailolo di Bobanehene. Desa Bobanehene adalah kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempabumi.

Gunung Jailolo stratovolcano yang lokasinya di kompleks gunungapi Halmahera, membentuk semenanjung di sebelah barat Teluk Jailolo. Jailolo stratovolcano memang sudah lama tidak mengalami erupsi, tetapi ada bekas aliran lava muda di sisi timurnya.

Selain berkaitan dengan kawasan gunungapi, beberapa laporan menunjukkan bahwa aktivitas swarm juga dapat terjadi di kawasan non volkanik. Swarm memang dapat terjadi di kawasan dengan karakteristik batuan yang rapuh sehingga mudah terjadi retakan (fractures).

Swarm juga dilaporkan banyak terjadi di daerah dengan batuan penyusunnya heterogen. Kondisi batuan semacam ini memang banyak terdapat di Jailolo. Berdasarkan data geologi, daerah ini memang tersusun oleh material batuan yang bervariasi, seperti batupasir, napal, tufa, konglomerat, dan batugamping.

Banyak kalangan mempertanyakan pembangkit gempabumi swarm ini. Hasil analisis mekanisme sumber terhadap 2 gempabumi signifikan yang terjadi pada 20 November 2015 (M=4,8) dan 1 Desember 2015 (M=4,8), menunjukkan bahwa kedua gempabumi ini dipicu oleh sesar turun (normal fault).

Kedua aktivitas gempabumi ini memiliki mekanisme sumber yang sama yaitu sesar turun dengan Strike=177 dan Dip=53. Berdasarkan data ini dapat diinterpretasikan bahwa terjadi proses depresi lokal di bawah permukaan. Proses rupture berlangsung di bawah permukaan sehingga tidak ada kenampakan morfologi di permukaan.

AKTIVITAS MENURUN
Berdasarkan data gempabumi harian, sejak 21 – 29 November 2015 telah terjadi penurunan aktivitas gempabumi cukup signifikan. Jumlah gempabumi dari 146 gempa per hari (19 November 2015), sudah turun menjadi 1 gempa per hari (29 November 2015).

Namun demikian pada 1 Desember 2015 terjadi peningkatan jumlah gempabumi hingga mencapai 96 gempa per hari. Patut disyukuri bahwa kenaikan aktivitas gempabumi tidak berlanjut, karena pada 2 Desember terjadi penurunan aktivitas gempabumi, hingga pada 5 Desember 2015 hanya terjadi 6 aktivitas gempabumi.

Berdasarkan monitoring yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa hingga Sabtu 5 Desember 2015 aktivitas gempabumi masih fluktuatif, namun demikian secara umum terjadi kecenderungan penurunan, baik dalam jumlah aktivitas gempabumi maupun magnitudonya.

Data di atas merupakan cerminan adanya sebuah proses rupture dan release tegangan batuan yang terus berlangsung. Jika tegangan yang tersimpan dalam batuan habis, maka aktivitas swarm tentunya akan berakhir dengan sendirinya.

Bagi kalangan ahli gempabumi, aktivitas swarm merupakan fenomena alam biasa. Namun demikian karena fenomena semacam ini jarang terjadi dan masyarakat belum mengenal, maka wajar jika warga merasa cemas dan khawatir berlebihan.

Aktivitas swarm sudah beberapa kali terjadi di Indonesia, hanya belum didokumentasikan. Pada bulan Februari 2011 di Kampak, Trenggalek, Jawa Timur pernah terjadi serangkaian gempabumi berkekuatan kecil berlangsung terus-menerus. Kekuatan gempabumi berkisar antara 2,0 hingga 4,0 Skala Richter. Selain di daerah Kampak, swarm juga pernah terjadi di Lampung. Pada bulan Juni 2006 di daerah Kemiling, Bandar Lampung hampir setiap hari diguncang gempabumi jenis swarm, yang episentrumnya berada di Gunung Betung dan sekitarnya.

Aktivitas swarm di Halmahera Barat dilaporkan menimbulkan kerusakan bangunan rumah cukup banyak di Jailolo dan sekitarnya. Mengapa gempabumi dengan kekuatan kecil kurang dari 5,0 Skala Ricter dapat merusak banyak bangunan rumah?

Perlu kita pahami bahwa kerusakan bangunan akibat gempabumi dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu amplitudo, frekuensi, dan durasi getaran. Bangunan dapat mengalami kerusakan jika memenuhi paling tidak 1 faktor tersebut. Bangunan dapat rusak akibat amplitudo bilamana kekuatan gempabuminya besar.
Rusaknya bangunan juga dapat terjadi jika frekuensi bangunan sama dengan frekuensi dominan tanah. Ini terjadi bilamana terjadi resonansi gelombang gempabumi antara struktur bangunan dan tanah setempat.

Bangunan juga dapat mengalami kerusakan karena durasi gempabumi. Hal ini terjadi bilamana gempabumi yang terjadi berlangsung lama, atau bilamana struktur bangunan terus-menerus mengalami guncangan. Sehingga, meskipun kekuatan gempabumi kecil, tetapi jika kondisi bangunan terus mengalami guncangan maka lama-kelamaan akan terjadi kerusakan. Apalagi jika struktur bangunannya lemah, maka kerusakan mudah terjadi.

PEMBELAJARAN
Fenomena swarm di Halmahera Barat, dapat menjadi momentum tepat untuk pembelajaran masyarakat. Masyarakat kita perlu memahami gempabumi tipe III ini. Swarm dengan karakteriatiknya harus dikenal masyarakat. Ini penting, supaya jika terjadi di tempat lain tidak timbul keresahan dan kepanikan, karena masyarakat sudah memahaminya.

Dampak swarm memang meresahkan karena rentetannya yang berlangsung lama, sementara masyarakat awam belum mengenalinya. Dari berbagai kasus swarm di berbagai tempat, sebenarnya aktivitas swarm tidak membahayakan jika kondisi bangunan rumah di zona gempabumi memiliki struktur yang kuat.

Terkait aktivitas swarm di Halmahera Barat, masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpancing isu dari sumber yang tidak bertanggungjawab. Aktivitas swarm tidak akan diikuti oleh gempabumi dengan kekuatan besar, sehingga tidak akan memicu terjadinya tsunami.

Dr. Daryono, S.Si., M.Si.
Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKGgempa halbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: