Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

CATATAN SEJARAH GEMPABUMI DAN TSUNAMI MALUKU UTARA

Posted by Daryono pada November 22, 2015

CATATAN sejarah menunjukkan bahwa kawasan Maluku Utara-Sangihe sudah beberapa kali terjadi gempabumi merusak. Gempabumi Sangir 1 April 1936 adalah catatan gempabumi paling dahsyat yang pernah terjadi di zona ini, karena guncangannya yang mencapai VIII – IX MMI hingga menyebabkan sebanyak 127 bangunan rumah mengalami kerusakan.

Selain itu, gempabumi Pulau Siau pada 27 Pebruari 1974 juga memicu longsoran dan kerusakan bangunan rumah di berbagai tempat. Terakhir adalah gempabumi Sangihe-Talaud yang terjadi pada 22 Oktober 1983. Gempabumi ini dilaporkan telah merusak beberapa bangunan rumah.

Kawasan zona sumber gempabumi Maluku Utara-Sangihe juga memiliki beberapa catatan sejarah tsunami merusak akibat gempabumi tektonik. Beberapa catatan sejarah tsunami merusak di Maluku Utara dan sekitarnya adalah:

(1) Tsunami Banggai-Sangihe 1858 dilaporkan menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami,

(2) Tsunami Banggai dan Ternate 1859 telah mengakibatkan banyak bangunan rumah di daerah pesisir pantai disapu tsunami,

(3) Tsunami Kema-Minahasa 1859 dilaporkan memicu gelombang tsunami hingga mencapai atap bangunan rumah,

(4) Tsunami Gorontalo 1871 juga dilaporkan menerjang di sepanjang kawasan pesisir Pantai Gorontalo,

(5) Tsunami dahsyat Tahuna 1889 menerjang pesisir pantai hingga terjadi kenaikan air laut sekitar 1,5 meter,

(6) Tsunami Kepulauan Talaud 1907 menerjang kawasan pantai hingga ketinggian mencapai 4 meter, dan

(7) Tsunami Pulau Salebabu 1936 dilaporkan menerjang pantai dengan ketinggian hingga mencapai 3 meter.

Gambaran catatan sejarah tsunami tersebut di atas kiranya sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa Maluku Utara dan sekitarnya memang merupakan zona rawan gempabumi dan tsunami.

Bagi masyarakat setempat, kondisi alam yang kurang “bersahabat” ini adalah sesuatu yang harus diterima, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, semua itu adalah konsekuensi yang harus dihadapi sebagai penduduk yang tinggal dan menumpang di batas pertemuan lempeng tektonik.

*Dr. Daryono, S.Si., M.Si./Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsuami BMKG

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: