Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

  • Kalender

    November 2013
    S S R K J S M
    « Jul   Nov »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Kategori

WASPADA BANJIR LAHAR MERAPI

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

MEMASUKI musim hujan 2013/2014, ancaman banjir lahar di lereng Merapi tetap harus diwaspadai, karena di kawasan puncak dan lereng-lereng Merapi masih tersimpan jutaan meter kubik endapan material vulkanik produk erupsi 2010. Material vulkanik itu dapat turun menjadi banjir lahar jika terjadi hujan deras di atas 100 milimeter selama lebih dari satu jam.

Untuk itu, kepada seluruh warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi dihimbau untuk selalu waspada, karena peluang terjadinya banjir lahar masih dapat terjadi saat berlangsung curah hujan tinggi di puncak musim hujan kali ini.

PUNCAK HUJAN

Hasil analisis data hujan selama 30 tahun terakhir, didukung dengan data kondisi fisis dinamika atmosfer serta suhu muka laut, menghasilkan Prakiraan Musim Hujan 2013/2014. Prakiraan musim hujan yang dipublikasikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya beberapa daerah di Yogyakarta yang memasuki musim hujan pada awal bulan Nopember 2013. Daerah-daerah ini mencakup Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian selatan, dan Gunung Kidul bagian utara.

Sementara itu daerah yang paling akhir memasuki musim hujan adalah Gunung Kidul bagian selatan. Di daerah ini musim hujan jatuh pada akhir bulan Nopember. Daerah Gunung Kidul bagian selatan yang sebagian besar wilayahnya yang merupakan lahan kritis hampir selalu mendapatkan giliran terakhir musim hujan.

Ada satu hal yang perlu kita cermati terkait dengan prakiraan sifat hujan di Yogyakarta pada musim hujan saat ini. Prakiraan menunjukkan adanya dua zona musim dengan sifat hujan di atas normal, yaitu zona musim 138 yang mencakup kawanan Sleman bagian timur dan zona musim 121 yang mencakup kawasan puncak Merapi dan Magelang bagian timur. Sifat hujan di atas normal di zona musim 138 (lereng Merapi) dan zona musim 121 (puncak Merapi) ini patut untuk dicermati terkait dengan peluang terjadinya hujan lebat.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya peningkatan curah hujan selama musim hujan 2013/2014. Analisis menunjukkan bahwa kondisi normal hingga La Nina lemah akan dominan hingga pertengahan 2014. Sementara, prediksi Dipole Mode Indeks pada bulan Agustus hingga Desember 2013 berada pada kondisi normal hingga negatif kuat. Dengan demikian, ada indikasi bahwa pada Musim Hujan 2013/2014, uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia berpotensi akan bertambah.

Sementara itu, kondisi suhu muka laut di sebelah barat Sumatera, sekitar Pulau Jawa dan sebelah Selatan Kepulauan Maluku dan Papua Barat diprakirakan akan tetap hangat hingga November 2013 dengan anomali suhu berkisar +0.5°C s/d +1°C, namun demikian pada bulan-bulan selanjutnya akan berada pada kisaran normalnya.

Secara lokal, berdasarkan data rata-rata curah hujan bulanan maka dapat diketahui puncak hujan di kawasan Merapi. Data curah hujan bulanan dari Pos Hujan Kaliurang menunjukkan nilai yang mencapai 508 milimeter pada bulan Januari dan 514 milimeter pada bulan Pebruari. Tingginya curah hujan yang terjadi antara bulan Januari-Pebruari ini menunjukkan bahwa puncak hujan di puncak Merapi berlangsung pada bulan-bulan tersebut.

BANJIR LAHAR
Sebagai antisipasi meningkatnya curah hujan di musim hujan, kepada seluruh warga masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi dihimbau agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir lahar yang dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan. Banjir lahar masih berpotensi terjadi di beberapa aliran sungai, hanya saja material yang terbawa tidak sebanyak dahulu saat pasca erupsi. Di sisi selatan Merapi, beberapa aliran sungai perlu di waspadai yakni Kali Woro, Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Boyong. Sedangkan di sisi barat Merapi adalah Kali Krasak, Kali Putih, Kali Trising, dan Kali Senowo.

Saat ini endapan vulkanik sudah mengalami perubahan sifat dimana komponen abunya sudah banyak berkurang. Karena itu, endapan vulkanik yang ada tidak lagi mudah terpicu hujan deras mennjadi banjir lahar. Padahal, saat musim hujuan 2011 pasca erupsi, hanya dengan guyuran curah hujan 40 milimeter saja selama dua jam, langsung terjadi banjir lahar. Akan tetapi, setelah itu, meskipun terjadi curah hujan 60 milimeter, banjir lahar tidak terjadi.

Terkait dengan besarnya deposit lahar Merapi, maka untuk menghabiskan material vulkanik hasil erupsi tampaknya butuh waktu 3 hingga 4 periode musim hujan. Ancaman banjir lahar diperkirakan bisa berlangsung hingga 4 tahun setelah terjadinya erupsi, sehingga pada musim hujan kali ini masih memungkinkan terjadi banjir lahar. Sebagai contoh, peristiwa rusaknya jembatan Kali Krasak akibat banjir lahar pada tahun 1974, justru diterjang oleh lahar hasil erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 1969.

Erupsi gunungapi selalu menghasilkan endapan material vulkanik berupa abu dan debris gunungapi yang menimbun di lereng gunung. Selanjutnya lahar terbentuk jika turun curah hujan dengan intensitas tinggi yang bercampur dengan material lepas gunungapi hingga membentuk aliran. Meskipun material lahar tersusun atas abu gunungapi dan fragmen batuan, tetapi banjir lahar mampu mengalir lebih deras dan lebih cepat jika dibandingkan dengan aliran air biasa.

Material lumpur dan pasir dengan cepat mengalir menuruni lereng-lereng gunung dengan kecepatan yang mencapai 65 kilometer per jam dan dapat mengalir deras hingga jarak lebih dari 80 kilometer. Aliran debris dengan masa jenis besar ini meluncur dengan percepatan makin besar, karena ditopang oleh gaya gravitasi. Semakin cepat laju banjir lahar maka semakin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan. Ancaman bahaya banjir lahar tidak saja di sepanjang jalur sungai di lereng gunung, tetapi di kawasan dataran kaki gunung justru lebih berbahaya karena menjadi zona luncur bebas seperti halnya luapan Kali Putih yang pernah memutuskan jalur transportasi Magelang-Yogyakarta tahun 2011 lalu.***

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: