Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

  • Kalender

    November 2013
    S S R K J S M
    « Jul   Nov »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Kategori

Mewaspadai Bahaya Sekunder Merapi

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

DE Boer dan Sanders (2002) dalam buku Volcanoes in Human History, menyebutkan bahwa hingga saat ini Merapi merupakan gunung api paling aktif di dunia.

Merapi memang memiliki frekuensi erupsi paling sering jika dibanding gunung api aktif lain di dunia. Menurut Badan Geologi, hingga tahun 2006 Merapi diperkirakan sudah mengalami erupsi besar sebanyak 83 kali.

Rata-rata selang waktu erupsi Merapi periode pendek terjadi antara 2 hingga 5 tahun, sedangkan selang waktu erupsi periode menengah terjadi setiap 5 hingga 7 tahun.
Namun demikian, gunung itu juga pernah mengalami masa istirahat panjang selama lebih dari 30 tahun, terutama pada masa awal pembentukannya.

Memasuki abad 16 kegiatan Merapi mulai tercatat cukup baik. Pada masa ini, terlihat waktu istirahat terpanjang Merapi pernah dicapai selama 71 tahun ketika jeda antara tahun 1587, sampai dengan tahun 1658.
Tanggal 5 November 2010 letusan dahsyat Merapi† kembali terjadi. Letusan Merapi kali ini sungguh luar biasa, karena mampu memuntahkan 150 juta meter kubik magma selama periode erupsinya. Bertiupnya angin yang cukup kuat, telah mengarahkan kolom abu vulkanik vertikal setinggi 9 kilometer, berubah menjadi horizontal yang mengarah ke arah sisi barat Merapi.

Muntahan magma hasil erupsi ini 19 kali lipat jauh lebih banyak jika disbanding-kan dengan† keluaran magma hasil erupsi yang terjadi pada tahun 2006.
Erupsi Merapi 2010 dikenal sebagai erupsi yang paling besar selama 140 tahun terakhir dan menelan jumlah korban jiwa dan harta benda sangat besar.

Peristiwa erupsi Merapi 2010 menunjukkan bahwa hujan abu† akibat semburan material vulkanik lebih dominan menyebar ke arah barat. Dampak hujan abu yang mengarah ke barat ini telah menyebabkan kawasan lereng barat gunung itu lebih banyak menyimpan material piroklastik ringan seperti abu, pasir dan kerikil. Bulan Januari dan Februari 2011, kondisi cuaca† di Pulau Jawa masih dalam periode puncak musim hujan, sehingga penduduk yang bermukim di sekitar Merapi perlu waspada terhadap bahaya sekunder letusan Merapi.

Setelah berlalu bahaya primer akibat langsung dengan letusan, warga yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai yang berhulu di Merapi diimbau untuk selalu waspada, karena peluang terjadinya bahaya sekunder berupa banjir lahar yang lebih besar dapat terjadi, mengingat tingginya intensitas curah hujan selama puncak musim hujan pada bulan ini.

Bahaya Sekunder

Tidak kalah dari bahaya primer, bahaya sekunder dapat menerjang kawasan permukiman yang terletak di sepanjang daerah aliran sungai yang dilewati material lahar. Letusan demi letusan, mengakibatkan lereng gunung tersebut menjadi gersang dan dipenuhi endapan timbunan abu vulkanik.

Tingginya curah hujan yang jatuh di atas timbunan material vulkanik, akan mengalirkan material vulkanik tersebut ke daerah-daerah yang lebih rendah dan bisa menimbulkan bencana yang tidak kalah bahayanya dari bahaya primer erupsi.

Oleh karena itu, pemantauan terhadap bahaya Merapi seharusnya tidak hanya dilakukan terhadap kegiatan erupsi gunung apinya saja, tetapi juga akibat sampingan yang membahayakan kehidupan masyarakat, seperti banjir lahar dingin yang sangat merusak.

Pada kasus erupsi Merapi, material vulkanik yang relatif lebih ringan seperti abu dan pasir yang banyak diendapkan di kawasan barat memiliki sifat lebih mudah larut dalam aliran air hujan.
Sehingga, potensi banjir lahar di lereng barat dan barat daya tetap akan mengancam daerah aliran Kali Krasak, Kali Putih, Kali Blongkeng, Kali Pabelan, Kali Senowo dan Kali Apu.

Erupsi gunung api selalu menghasilkan deposisi material vulkanik berupa abu dan debris gunung api, yang menimbun di lereng badan gunung. Lahar terbentuk jika turun curah hujan dengan intensitas tinggi bercampur dengan material lepas gunung api hingga membentuk aliran. Meskipun material lahar tersusun atas abu gunung api dan fragmen batuan, banjir lahar mampu mengalir lebih deras dan lebih cepat jika dibandingkan aliran air biasa.

Material lahar yang tersusun atas campuran material lumpur dan pasir ini dengan cepat mengalir menuruni lereng-lereng gunung dengan kecepatan mencapai hingga 65 kilometer per jam dan dapat mengalir deras hingga jarak lebih dari 80 kilometer.

Aliran debris dengan berat jenis besar ini meluncur dengan percepatan makin besar, karena laju alirannya ditopang gaya gravitasi. Semakin cepat laju banjir lahar maka makin besar potensi kerusakan yang ditimbulkan. Ancaman† bahaya banjir lahar tidak saja di sepanjang jalur sungai di lereng gunung, tetapi di kawasan dataran kaki justru lebih berbahaya, karena menjadi zona luncur bebas seperti halnya luapan Kali Putih yang memutuskan jalur transportasi antara Magelang dan Yogyakarta.

Salah satu contoh bencana banjir lahar paling merusak di dunia adalah banjir lahar pasca erupsi Gunung Nevado del Ruiz di Columbia tahun 1985. Dalam waktu empat jam setelah letusan yang disusul hujan deras, lahar meluncur deras sejauh 100 km hingga hanya menyisakan kehancuran kota.

Lebih dari 23.000 orang tewas, sekitar 5.000 orang terluka, dan lebih dari 5.000 rumah hancur di sepanjang Chinchin·, GualÌ, dan sungai Lagunillas. Kerusakan paling parah menimpa kota Armero yang berlokasi di mulut ngarai Lagunillas RÌo. Tiga perempat dari 28.700 penduduk kota tewas mengenaskan akibat banjir lahar 13 November 1985. Peristiwa mengerikan ini selanjutnya dikenang sebagai tregedi Armero-Chinchina, sebagai satu-satunya bencana banjir lahar paling mematikan yang tercatat dalam sejarah.

Ini adalah fakta bahwa dampak banjir lahar justru bisa lebih berbahaya daripada erupsi gunung api itu sendiri. Contoh lain gunung api Pinatubo di Filipina, yang meletus tahun 1991. Banjir lahar telah menghancurkan rumah milik lebih dari 100.000 orang di lereng dan dataran kaki gunung tersebut.

Terkait besarnya deposit lahar Merapi, untuk† menghabiskan material vulkanik hasil erupsi, tampaknya butuh waktu tiga hingga empat periode musim hujan. Diperkirakan ancaman banjir lahar bisa berlangsung hingga beberapa tahun ke depan. Rusaknya jembatan Kali Krasak tahun 1974, justru karena diterjang oleh banjir lahar hasil erupsi Merapi tahun 1969.

Sangat Merusak

Ada beberapa bahaya yang ditimbulkan sebagai dampak banjir lahar yang memiliki sifat sangat merusak. Karakteristik aliran lahar yang melaju cepat dengan tenaga besar ini, disebabkan Merapi merupakan strato volcano yang memiliki lereng sangat curam. Kombinasi aliran material vulkanik seperti abu gunung api, kerikil, kerakal, bongkahan batu dengan lereng curam, menjadikan aliran banjir lahar juga dikontrol oleh percepatan gaya gravitasi bumi.

Ancaman sekunder lahar Merapi memiliki daya rusak tinggi. Bongkahan batu-batu besar bisa terangkut aliran, karena aliran lahar memiliki berat jenis yang sama besar dengan bongkahan batu.

Fenomena batu-batu besar yang terbawa banjir lahar ini dapat disaksikan di sepanjang kawasan banjir lahar Kali Putih. Terangkutnya bongkahan batu oleh aliran lahar ini tentu saja sangat mengancam keberadaan dam dan sabo penahan banjir.

Banjir lahar juga memicu tingginya bahaya erosi di sepanjang bantaran sungai yang dilalui banjir lahar. Meningkatnya erosi akibat banjir lahar dapat dijelaskan dengan mudah, di mana derajat kemiringan lereng pegunungan sangat mempengaruhi tegangan permukaan. Akibat kecepatan aliran permukaan yang meningkat ini, maka kapasitas daya rusak banjir lahar akan menjadi makin besar.

Energi yang timbul akibat aliran permukaan akan berubah menurut kuadrat kecepatan nya. Kapasitas pengangkutan butiran material vulkanik akan berubah dengan pangkat 5 dalam waktu dalam satu satuan dimensi. Dengan kata lain, jika kecepatan aliran pemukaan menjadi 2 kali lipat, maka jumlah butiran material yang terangkut menjadi 32 kali lebih banyak.

Pada kemiringan lereng curam, mengalirnya banjir lahar ke arah dataran kaki gunung berlangsung sangat cepat. Daya kikis atau daya tumbuk arus banjir lahar terhadap tepi sungai akan makin kuat, sehingga bagian-bagian tanah pada bantaran sungai mengalami cerai berai dan terangkut aliran lahar.

Makin besar kemiringan lereng maka akan makin besar bantaran sungai mengalami pengikisan dan erosi. Dampaknya, pada setiap peristiwa banjir lahar ada kecenderungan tepi sungai menjadi makin lebar, sehingga berdampak kepada rusaknya infrastruktur, seperti bangunan rumah di bantaran sungai, selain itu jembatan dapat jebol akibat pondasi jembatan tergerus material lahar.

Upaya Mitigasi

Ada beberapa upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk memperkecil bencana yang disebabkan oleh aliran banjir lahar ini, seperti membangun bronjong, check dam, sabo dam, dan beberapa bangunan sipil lainnya.
Bronjong,† yang merupakan untaian kawat berisi batu dan pasir dalam kantong terutama ditujukan untuk membelokkan aliran lahar, supaya tidak menyeleweng menghancurkan permukiman penduduk di sepanjang jalur sungai.

Sedangkan checkdam dan sabodam dibangun melintang† aliran sungai, berfungsi untuk menahan material lahar yang terdiri dari berbagai ukuran batuan supaya tidak terangkut lebih jauh lagi. Lahar yang merupakan cairan pekat berberat jenis tinggi mampu mengambangkan bongkahan batuan berukuran lebih dari 2 meter, sehingga daya rusak lahar sebenarnya terletak pada kekuatan yang tersembunyi tersebut.

Apabila check dam atau sabo dam sudah tidak mampu lagi menampung material lahar, bahan-bahan tersebut akan melimpah ke daerah hilir yang di sini pun akan di tahan oleh bangunan serupa. Upaya mitigasi bencana banjir lahar Merapi tampaknya juga perlu dikembangkan sebuah sistem peringatan dini banjir lahar yang lebih canggih lagi, berupa sistem monitor dan warning banjir lahar real time.

Peralatan yang dinilai sangat penting ini, selain sinyal transmisi dan kamera CCTV yang sudah terpasang pada beberapa titik di Merapi adalah beroperasinya sistem pemantau curah hujan otomatis yang dipasang di puncak Merapi. Alat ini mampu memantau tingginya intensitas curah hujan secara telemetri, realtime dan terintegrasi di pusat pemantauan.

Instrumen peringatan dini lain yang perlu dipertimbangkan adalah sistem monitor aliran lahar yang dapat mendeteksi vibrasi tanah saat terjadi rayapan banjir lahar yang sedang meluncur di sepanjang daerah aliran sungai di lereng Merapi.

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG
Dimuat di Koran Suara Merdeka 28 Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: