Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

  • Kalender

    November 2013
    S S R K J S M
    « Jul   Nov »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Kategori

BADAI DAHSYAT DAN PEMANASAN GLOBAL

Posted by Daryono pada November 17, 2013

Oleh Daryono

BELUM hilang dari ingatan masyarakat dunia akan bencana gempabumi merusak M=7,2 skala Richter yang mengguncang kawasan Visayas Tengah, Filipina, pada 15 Oktober 2013 lalu, kini kita sudah dikejutkan kembali oleh berita yang memilukan, yaitu terjangan Badai dahsyat Haiyan di Filipina.

Seperti yang sudah diprakirakan sebelumnya, Badai tropis Haiyan datang pada Jumat (8/11) pukul 04.40 waktu setempat, yang selanjutnya menyapu kepulauan tengah Samar dan Leyte. Hujan deras yang disertai angin kencang memporak-porandakan seluruh wilayah yang dilewati zona badai. Banjir dan longsoran terjadi di mana-mana. Air laut bergolak dan menyeruak hingga di ketinggiannya 6 meter, selanjutnya menerjang pesisir pantai mirip peristiwa tsunami.

Badai tropis Haiyan kini menjadi salah satu badai paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah. Badai ini menerjang dengan kecepatan lebih dari 235 kilometer per jam dan embusannya mencapai 275 kilometer per jam. Dengan kecepatan fantastik ini, Haiyan merupakan badai dengan kategori 5, dampaknya, banyak rumah mengalami kerusakan parah dan rubuh. Banyak wilayah akan terisolasi akibat pohon tumbang. Listrik dan air tak dapat didapatkan dalam hitungan minggu hingga bulan, serta banyak area yang tidak dapat dihuni. Ternyata benar, Haiyan telah menghancurkan 70-80 persen bangunan perumahan di daerah-daerah yang dilaluinya. Kota Tacloban merupakan kota yang menderita paling parah terkena amukan Haiyan. Hingga kini belum ada laporan pasti terkait jumlah korban tewas akibat badai. Hingga tulisan ini dibuat, sumber resmi pemerintah baru mengumunkan korban tewas akibat badai mencapai sebanyak 4.000 orang.

SEJARAH BADAI
Ditinjau dari sejarah badai merusak di Filipina, maka badai Haiyan yang terjadi saat ini hanyalah sebagian dari sejarah panjang bencana badai yang sudah berlangsung sejak masa lampau. Banyaknya catatan badai merusak di Filipina merupakan cermin akan kondisi geografi Filipina yang memang merupakan kawasan rawan badai tropis.

Filipina adalah negara yang paling berisiko mendapat terjangan badai tropis. Seringnya kawasan Filipina bagian timur dilanda badai hingga mempengaruhi pola persebaran pemukiman masyarakatnya, misalnya, pantai timur Luzon kini sangat sedikit penduduknya.

Berdasar catatan Christopher C. Burt dalam Philippines Typhoon History, negara Filipina memang sering kali menderita akibat terjangan badai. Sejak 1617 hingga saat ini, telah terjadi setidaknya 10 kali peristiwa badai yang mematikan dan menelan banyak korban jiwa. Catatan paling tua mengenai peristiwa badai dahsyat di Filipina dimulai sejak 1617. Badai tropis tanpa nama yang terjadi pada 10 Oktober 1617 menewaskan sekitar 1.000 orang. Sementara itu, badai tropis paling mematikan yang pernah terjadi di Filipina adalah Badai Thelma 1991. Badai ini menyebabkan banjir bandang besar dan longsoran di Kota Ormoc, Provinsi Leyte dan menewaskan sekitar 5.000-8.000 orang.

Sejarah badai merusak di Filipina sudah berlangsung sejak lama dan menelan korban jiwa hingga puluhan ribu orang. Beberapa peristiwa badai dahsyat yang pernah terjadi diantaranya adalah (1) Badai Angela yang tahun 1867 menyebabkan 1.800 orang tewas, (2) Badai tropis tanpa nama kembali terjadi pada 1897 menelan korban jiwa 1.500 orang tewas, (3) Badai Ike tahun 1984 menghantam kepulauan Filipina bagian tengah hingga menyebabkan sebanyak 1.492 orang tewas, (4) Badai Winnie yang terjadi pada tahun 2004 menelan korban 1.593 orang tewas, (5) Badai Reming tahun 2006 menelan korban sebanyak 1.399 orang tewas, (6) Badai Fengshen 2008 menelan korban 1.410 orang tewas, (7) Badai Washi yang terjadi pada tahun 2011, menghantam bagian utara Pulau Mindanao menyebabkan sebanyak 1.268 orang tewas, (8) Badai Bopha 2012 menerjang Pulau Mindanao hingga menyebabkan 1.146 orang tewas.

Secara statistik aktivitas badai di Filipina menunjukkan bahwa, frekuensi kejadian badai tropis paling rendah terjadi pada bulan Mei. Selanjutnya aktivitas kembali meningkat pada periode bulan Juni-September. Bulan Agustus menjadi bulan paling aktif terjadi badai di Filipina. Selanjutnya, aktivitas badai kembali menurun secara signifikan pada bulan Oktober.

PEMANASAN GLOBAL
Danpak dari pesatnya perkembangan teknologi adalah munculnya risiko bencana lebih besar yang sebelumnya tidak pernah dialami oleh manusia. Pola kehidupan modern yang cenderung konsumtif dan dengan kebebasan mengekplotasi sumberdaya alam, kini telah menciptakan masyarakat yang justru hidup dalam ketidaknyamanan karena selalu berada dalam bayang-bayang ancaman bahaya.

Peristiwa superbadai terjadi tidaklah murni semata-mata akibat proses sistem alam saja. Ada indikasi keterlibatan tangan-tangan manusia (antropogenic) yang juga ikut mempengaruhi proses semakin besarnya magnitudo dan intensitas badai. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan dan tanpa kendali, praktek ilegal logging yang terus berlangsung dengan membabat habis hutan-hutan tropis telah memicu naiknya suhu di permukaan bumi. Suhu laut meningkat 0,5 derajat celsius sejak seabad terakhir merupakan dampak nyata dari pemanasan global. Sementara badai sendiri terbentuk akibat tingginya suhu permukaan air laut.

Pakar pemodelan iklim dari National Center for Atmospheric Research, Colorado, Amerika Serikat, Kevin E. Trenberth menyatakan bahwa dengan suhu air laut yang lebih hangat dengan kelembaban udara di lautan 4 persen lebih tinggi akan memicu terbentuknya badai tropis yang lebih banyak dari biasanya. Ada kecendaerungan badai dengan kategori 3 atau di atasnya meningkat makin sering terjadi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sejak tahun 1970-an durasi dan intensitas badai besar yang melanda kawasan Atlantik dan Pasifik mengalami peningkatan. Selain itu, curah hujan akibat dampak badai kini akan menjadi 5-10 persen lebih besar dari biasanya.

Berdasar fakta tersebut di atas, maka patut untuk kita renungkan bersama. Jika degradasi alam terus berlangsung dan tidak ada upaya untuk menghentikannya, maka bisa jadi bencana alam besar akan lebih sering menghampiri kita. ***

Penulis adalah Doktor peneliti di BMKG.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: