Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

BANJIR SUDAH MENJADI “TAMU” RUTIN KOTA PADANG

Posted by Daryono pada Juli 25, 2012

BANJIR SUDAH MENJADI “TAMU” RUTIN KOTA PADANG

By Daryono

BANJIR bandang menerjang Kota Padang pada Selasa petang (24/7). Warga tidak mengira hujan lebat yang berlangsung sekitar 3 jam lamanya ini akhirnya memicu banjir bandang. Aliran sungai di beberapa wilayah Kota Padang meluap. Bebera aliran sungai, seperti: Lubuk Kilangan, Seberang Padang, Batang Anai, Kurao Pagang, Batang Kuranji meluap. Akibat peristiwa ini dilaporkan ratusan rumah terendam banjir.

Lebih dari sepekan terakhir, hujan lebat memang melanda beberapa daerah di Pulau Sumatera. Air hujan seolah tumpah dari langit pada saat musim yang tidak semestinya, jika ditinjau dari kondisi normal hujannya. Fenomena hujan lebat di Bulan Juli di Sumatera Barat dan Sumatera Utara ini memang dirasa aneh oleh sebagian orang. Pada bulan Juni lalu curah hujan cenderung rendah. Warga masyarakat pun bertanya-tanya fenomena apa yang sedang terjadi, karena setelah hujan jarang terjadi, mengapa tiba-tiba hujan turun dengan lebat.

Pantauan cuaca menunjukkan bahwa pada saat terjadinya curah hujan lebat di Kota Padang memang terdapat gangguan tropis berupa tekanan rendah 1007 milibar di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera. Pada saat yang sama di Laut Cina selatan terdapat aktivitas siklon tropis Vicente. Dampak dari kedua fenomena gamnguan tropis itu menyebabkan di Sumatera Barat terbentuk zona pertemuan massa udara yang kaya uap air hingga menimbulkan konsentrasi awan konvektif yang memicu hujan deras di Sumatera Barat pada sore harinya.

Catatan kejadian banjir menunjukkan bahwa di Kota Padang memang daerah rawan banjir. Pada November 1986 tercatat dalam rekor Muri sebagai kota dengan tingkat curah hujan yang tinggi yaitu 5.254 mm. Pada tahun 1980 hampir 2/3 kawasan Kota Padang pernah terendam banjir karena saluran drainase kota yang bermuara ke Batang Arau tidak mampu lagi menampung limpahan air air hujan.

Pada beberapa tahun terakhir frekuensi kejadian banjir di Kota Padang semakin meningkat. Data banjir Kota Padang selama enam tahun terakhir adalah: (1) Pada 7 Juni 2007 akibat hujan lebat yang turun selama berjam-jam hampir sebagian besar kawasan kota Padang dilanda banjir. (2) Pada 14 September 2009 sebagian wilayah di kota Padang dilanda banjir, banjir juga melanda tiga desa di Kabupaten Pesisir Selatan. (3) Hujan sepanjang yang terjadi pada 25 Maret 2010 sore hingga 26 Maret 2010) pagi, membuat sejumlah daerah di Kota Padang banjir. (4) Pada 27 September 2010 Kota Padang terjadi banjir, ratusan orang mengungsi. (5) Pada 13 Oktober 2010, ratusan warga Kota Padang, Sumatera Barat, terpaksa mengungsi ke tempat yang aman akibat banjir yang melanda beberapa kawasan di kota. (6) Pada 2 Nopember 2011 beberapa pemukiman masyarakat dan ruas jalan utama Kota Padang kebanjiran. (7) Pada 4 November 2011 banjir di Sumatera barat menyebabkan 6 orang meninggal dunia dan 4 orang hilang. Dan puluhan rumah hanyut. (8) Pada 23 Januari 2012 ribuan rumah di Kecamatan Kototangah terendam air 1-2 meter. (9) Pada 29 Pebruari 2012 ratusan rumah di Kota Padang terendam banjir. (10) Pada 1 Maret 2012 ratusan rumah di Kota Padang terendam banjir. (11) Pada 8 April 2012 Sejumlah ruas jalan di Kota Padang terendam banjir sore hingga malam, membuat beberapa kawasan di Kota Padang tergenang air, dan (12) 31 Mei 2012 hujan lebat menyebabkan beberapa daerah pemukiman di Kota Padang terendam banjir.

Ditinjau dari morfologinya, dataran rendah Kota Padang memang daerah rawan banjir. Sampai saat ini Kota Padang memang belum bisa seratus persen mengatasi banjir. Dari dulu di kota yang terletak di bibir pantai ini, banjir masih menjadi momok apabila hujan turun terus menerus.

Selain faktor hidrometorologis berupa tingginya curah hujan, banjir yang sudah menjadi “tamu” rutin di Kota Padang merupakan perwujudan dari kurangnya perhatian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan. Salah satu upaya mitigasi banjir dapat dilakukan dengan menjaga lingkungan hidup.

Keberadaan hutan yang lestari memiliki fungsi sangat vital untuk menahan curahan air hujan. Dengan menghijaukan dan mempertahankan kelestarian hutan, ancaman banjir dapat dikurangi. Hutan yang lestari membuat masyarakat terhindar dari banjir. Sayang, masyarakat kita sekarang kurang memahami arti penting lingkungan hidup.

Ada kecenderungan persebaran dan populasi penduduk di Kota Padang yang terus meningkat membuat penduduk mulai merambah makin ke pedalaman. Pada masa lalu, ketika pusat Kota Padang masih ada di sekitar pantai, banjir belum begitu menjadi masalah. Disamping karena kawasan hutan di dataran tinggi seperti di Kuranji, Pauh dan Lubuk Begalung hingga Indarung masih terjaga. Tapi lambat laun kemudian pola pemukiman bergerak meluas sampai ke timur membuat kawasan hutan menjadi terbuka. Aktifitas penduduk yang kian meningkat membuat kawasan serapan air juga kian tertutup oleh bangunan.

Setiap kali hujan, tidak lagi terserap oleh tanah melainkan langsung hanyut ke sungai-sungai yang tidak mampu menampungnya. Hutan di bagian timur Kota Padang semakin berkurang, sungai-sungai besar berubah menjadi dangkal karena tinginya laju erosi.
Kondisi lingkungan menjadi semakin buruk. Lahan persawahan dan ladang produktif kini banyak beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Hingga akhirnya air limpasan permukaan itu pun selalu meluap sampai jauh dan menyebabkan banjir yang kini harus dihadapi oleh penduduk Kota Padang.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: