Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

  • Kalender

    Oktober 2011
    S S R K J S M
    « Jul   Apr »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Kategori

Posted by Daryono pada Oktober 15, 2011

KERAWANAN GEMPABUMI DAN TSUNAMI DAERAH BALI SERTA ANTISIPASINYA

Daryono
Peneliti di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
email:daryonobmg@gmail.com

Intisari

Wilayah Indonesia merupakan zona” triple junction” yaitu kawasan benturan 3 lempeng utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Dampaknya, Indonesia menjadi salah satu kawasan seismik yang aktif dan kompleks. Secara regional, Bali sebagai bagian tatanan tektonik Indonesia, maka kerawanan gempabumi di daerah ini disebabkan oleh adanya 2 (dua) pembangkit gempabumi, yaitu penyusupan lempeng Indo-Australia dari selatan dan patahan lokal Bali Back-Arc Thrust dari utara. Sebagai langkah antisipasi dan mitigasi bencana gempabumi di Bali, BMKG telah membangun jaringan pemantau gempabumi digital yang beroperasi secara kontinyu, terpadu dan real time pada tahun 1990. Selain sebagai kawasan rawan gempa, secara tektonik Bali juga memiliki potensi ancaman tsunami. Sebagai antisipasinya, awal tahun 2006 BMKG menyempurnakan perangkat analisis agar mampu menghasilkan informasi gempabumi yang lebih cepat. FONYX System yang dioperasikan mampu menentukan parameter gempa dalam waktu 5 menit. Kecepatan deteksi gempa semacam ini merupakan Infrastruktur dasar terrealisasinya sistem peringatan dini tsunami untuk mengantisipasi sekaligus peringatan dini bencana tsunami di Bali.

PENDAHULUAN

Kepulauan Indonesia adalah salah satu wilayah di dunia dengan tingkat aktivitas gempabumi yang sangat tinggi, sekaligus merupakan wilayah tektonik yang sangat aktif dan kompleks. Hal ini disebabkan karena posisi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik, yang bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda-beda.

Selain itu Indonesia juga merupakan suatu daerah dengan struktur palung kepulauan yang khas, dengan karakteristik fisiografik yang unik seperti pemisah antara dua samudra yang dalam dan pertemuan dua sistem pegunungan, yaitu sistem pegunungan Mediterania yang terbentang di Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, dan sistem Pegunungan Pasifik yang terbentang di Pulau Halmahera dan Sulawesi. Interaksi antara keempat lempeng utama dan aktifitas vulkanik dua sistem pegunungan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan terhadap gempabumi dengan tingkat seismisitas yang tinggi. Berdasarkan catatan kegempaan selama satu abad terakhir, setiap tahun rata-rata terjadi sepuluh gempabumi merusak di Indonesia.

Di Indonesia, selama rentang waktu periode 2004-2009 telah terjadi lebih dari sebelas kali peristiwa gempabumi merusak. Berikut ini adalah daftar bencana gempabumi merusak di Indonesia sejak tahun 2004-2009, yaitu: gempabumi Pariaman 2009 (M 7,6 SR; lebih 800 orang tewas), gempabumi Tasikmalaya 2009 (M 7,3 SR; lebih dari 46 orang tewas), gempabumi Solok 2007 (M 8,4 SR; lebih dari 25 orang tewas), gempabumi Sumatera Barat 2007 (M 6,3 SR; 52 orang tewas), gempabumi Manado 2007 (M 7,3 SR; 4 orang tewas), gempabumi dan Tsunami Pangandaran 2006 (M 7,7 SR; lebih dari 600 orang tewas), gempabumi Yogyakarta 2006 (M 6,3 SR; lebih dari 6.000 orang tewas), gempabumi Nias 2005 (M 8,7 SR; lebih dari 900 orang tewas), gempabumi dan Tsumani Aceh 2004 (M 9,0 SR; lebih dari 200.000 orang tewas), gempabumi Nabire 2004 (M 6,4 SR; lebih dari 30 orang tewas), dan gempabumi Alor 2004 (M 6,0 SR; lebih dari 30 orang tewas). Peta seismisitas Indonesia periode 1900-2009 menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan di Indonesia memang sangat tinggi.

Berdasarkan fakta tektonik dan catatan kegempaan di Indonesia, maka sebagai langkah mitigasi dan antisipasi dari segi pemantauan gempabumi perlu kiranya terus dilakukannya perbaikan, baik sistem pemantauan maupun analisisnya sehingga mampu memberikan informasi gempabumi sedini mungkin, termasuk sistem peringatan dini bahaya tsunami di wilayah Indonesia.

RAWAN GEMPABUMI

Secara regional, Daerah Bali, berdasarkan pada karakteristik kegempaan dan tektonik, serta ditunjang dengan karakteristik data geofisika yang ada, maka sumber gempabumi yang mempengaruhi kawasan Bali dan sekitarnya dapat dibagi atas 2 bagian, yaitu zona penyusupan lempeng Australia di selatan Bali dan patahan naik busur belakang di utara Bali. Gempabumi yang terjadi pada zona penyusupan lempeng di Bali umumnya dipisahkan atas dua kelompok, yaitu gempabumi megathrust yang merupakan gempabumi akibat penyusupan dangkal dan gempabumi Benioff Zone yang merupakan gempa akibat penyusupan dalam (Hamilton, 1979).

Pengaruh tektonik utama untuk Pulau Bali didominasi oleh adanya tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan busur Sunda di selatan Pulau Bali yang membentang dari selat Sunda di barat sampai Alor di timur (Silver et al. 1986). Penyusupan lempeng ini cukup aktif dengan kecepatan 9 cm/tahun (DeMets, 1994) menyebabkan timbulnya pusat-pusat gempa di zona suhduksi Jawa yang dimulai dari selat Sunda di bagian barat dan berakhir di Pulau Banda di bagian timur serta pusat-­pusat gempabumi pada patahan Busur Belakang Bali (Bali Back Arc Thrust).

Berdasarkan rekap data hasil pemantauan gempabumi di daerah Bali dan sekitarnya, rata-rata dalam sehari terjadi gempabumi sebanyak 5 hingga 10 kali dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman. Sedangkan dalam setahun dapat terjadi gempabumi rata-rata 1000 hingga 2000 kali.

Catatan sejarah Gempabumi kuat sejak 1815 menunjukkan bahwa Pulau Bali sudah diguncang gempabumi merusak hingga 60 kali. Beberapa kasus gempabumi merusak yang pernah terjadi di Bali, sebagian besar terjadi di kawasan yang tidak padat penduduknya.

Meski demikian banyaknya korban yang jatuh akibat bencana kebumian ini tetap saja dalam jumlah yang cukup besar. Dibawah ini tiga kejadian gempabumi kuat yang pernah mengguncang Bali dan menimbulkan korban jiwa cukup besar.

Bencana gempabumi dahsyat yang populer oleh masyarakat Bali disebut sebagai “Gejer Bali” terjadi tahun 1815. Tidak ada catatan tanggal dan Bulan yang pasti mengenai bencana tersebut terjadi, karena merupakan catatan sejarah dari pemerintah kolonial Belanda. Namun yang pasti bencana tersebut menelan korban jiwa yang cukup besar, 10.253 orang tewas.

Pada tanggal 21 Januari 1917 gempabumi merusak kembali terjadi dalam skala intensitas IX MMI (Modified Marcalli Intensity), menewaskan 1500 orang. Gempabumi ini menyebabkan terjadinya tanah longsor pada beberapa tempat di Bali sehingga tidak terhitung banyaknya rumah yang hancur.

Terakhir gempabumi yang memakan korban cukup besar adalah gempa Seririt yang terjadi tanggal 14 Juli 1976 yang mengakibatkan 559 orang tewas dan 4158 orang luka parah

Dapat dibayangkan besarnya kerugian yang timbul apabila gempabumi kuat semacam ituterjadi pada saat sekarang di kota-kota besar di Bali dimana banyak gedung-gedung bertingkat penunjang pariwisata, yang perencanaan bangunannya tidak dipersiapkan secara sunguh-sungguh terhadap bahaya gempabumi.

RAWANAN TSUNAMI
Pulau Bali sebagai kawasan yang diapit oleh 2 generator gempabumi, menyebabkan mayoritas gempabumi yang terjadi di Bali dan sekitarnya berpusat di lautan. Tingginya frekuensi gempabumi yang berpusat di laut ini akan memperbesar tingkat resiko tsunami di Bali, jika gempabumi yang terjadi memiliki magnitudo di atas 6.5 Skala Richter, memiliki kedalaman kurang dari 30 kilometer yang terjadi di zona megathrust yang kaya gempabumi dangkal di zona kontak antar lempeng.

Zona megathrust selatan Bali ini sudah terbukti dalam membangkitkan gempabumi yang memicu tsunami di pesisir selatan Sumbawa (1977) dan tsunami Banyuwangi (1994). Posisi Bali yang lokasinya berhadapan dengan Samudera Hindia berada di antara lokasi pembangkit tsunami Sumbawa (1977) dan tsunami Banyuwangi (1994) memiliki peluang yang tinggi terhadap ancaman tsunami, karena kawasan ini dikatakan sebagai zona kesenjangan gempabumi tsunami (tsunamigenic earthquake).

Struktur patahan belakang busur kepulauan yang kini keberadaannya sudah mencapai utara Bali (Daryono, 2000) dibuktikan oleh gempabumi merusak di Seririt (1976). Kenyataan ini akan semakin mengokohkan kita bahwa pesisir utara Bali pun terdapat generator gempabumi kuat akibat patahan naik di belakang busur kepulauan, sehingga akan memperbesar peluang tsunami di Pesisir utara Bali hingga utara Lombok. Tsunami dahsyat produk patahan naik belakang busur kepulauan ini sudah dibuktikan oleh gempabumi yang memicu tsunami Flores (1992). Sehingga keberadaan zona patahan naik yang membangkitkan gempabumi dangkal dengan patahan vertikal akan menjadi ancaman serius di kawasan pesisir utara Bali dan selat Lombok jika kekuatan gempabuminya relatif besar.

Berdasarkan studi mekanisme pembangkit gempabumi untuk mengetahui pola patahan gempabumi di sekitar Bali yang dilakukan McCaffrey (1887), Yazid (1999) dan (Daryono (2000) menunjukkan bahwa perairan di sekitar Bali banyak terdapat persebaran patahan naik yang berpotensi membangkitkan tsunami. Berdasarkan beberapa hal tersebut, di dukung dengan keberadaan Bali yang berada pada Peta Zona Rawan Tsunami maka dapat dikatakan bahwa daerah Bali dan sekitarnya merupakan kawasan yang rawan terhadap ancaman bencana tsunami.

LANGKAH ANTISIPASI

Tingginya tingkat kerawanan gempabumi dan tsunami di Bali, memerlukan langkah antisipasi berupa adanya sistem pemantauan gempabumi yang beroperasi secara kontinyu, terpadu dan real time. Langkah antisipasi sebagai upaya mitigasi bencana dari segi pemantauan aktivitas gempabumi sudah dilakukan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika dengan mengembangkan jaringan seismik lokal telemetri dalam proyek Seismological and Communication (SEISCOM). SEISCOM [Seismological Communication] adalah sistem deteksi gempabumi telemetri yang kontinyu, terpadu dan realtime yang dibangun BMG pada tahun 1990.

Disusul kemudian dengan instalasi software lokalisasi gempabumi (SPS-7) dan recorder gempabumi dengan sistem analog pada tahun 1991 yang mampu menentukan parameter gempabumi dalam waktu 20 menit. Jaringan ini terdiri dari 8 sensor seismik yang masing-masing di tempatkan Bukit Srawed (Banyuwangi), Kelatakan (Gilimanuk), Rangdo (Tabanan), Bukit Ungasan (Jimbaran), Yeh Sanih (Buleleng), Bukit Ratta (Nusa Penida), Tanah Aron (Karangasem) dan Bukit Kedondong di Lombok Barat.

Mengingat kerawanan daerah Bali tidak saja disebabkan oleh gempabumi, tetapi gempabumi yang terjadi di laut sekitar Bali juga berpotensi memicu tsunami, maka antisipasi bencana tsunami di daerah Bali menjadi suatu hal yang penting untuk di upayakan dan direalisasikan. Sehingga pada awal tahun 2006, BMKG melakukan penyempurnaan sistem perangkat analisis gempabumi agar dapat menentukan parameter gempabumi secara lebih cepat dan lebih akurat. Dengan beroperasinya FONYX System 2006 yang dilengkapi system database gempabumi, maka jika terjadi gempabumi, parameter gempabumi dapat ditentukan dalam waktu 5 menit. Kecepatan deteksi gempabumi semacam ini merupakan Infrastruktur paling dasar dalam mendukung beroperasinya INATEWS [Indonesia Tsunami Early Warning System] untuk antisipasi & peringatan dini tsunami di Bali dan sekitarnya.

FONYX System memiliki beberapa keunggulan lebih dibandingkan dengan software-software gempabumi yang sudah dioperasikan sebelumnya, seperti kemampuannya dalam mengolah data lebih cepat, interaktif, prosedur operasi yang sederhana namun memberikan hasil parameter yang maksimal. Keunggulan FONYX System 2006 lain adalah mampu menentukan hiposenter gempabumi dalam di atas 300 km dan gempabumi jauh (teleseismic).

FONYX System yang dilengkapi alarm gempabumi dalam optimalisasinya dapat menunjang terwujudnya pembangunan sistem peringatan dini tsunami bagi masyarakat Bali yang tinggal di pesisir pantai. Sehingga, infrastruktur lain yang dibutuhkan adalah adanya menara sirine tsunami untuk penyebaran tanda bahaya tsunami kepada masyarakat pesisir. Untuk ini, maka pada tahun 2006, BMKG telah membangun 6 menara sirine tsunami yang tersebar di beberapa titik lokasi pesisir pantai strategis, sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap ancaman Tsunami.***

PUSTAKA

Daryono. 2000. Identifikasi Patahan Aktif Daerah Bali Berdasarkan Seismisitas Lokal dan Solusi Bidang Sesar. Skripsi S-1. FMIPA Universitas Indosesia.

De Mets, C., R.G. Gordon, D.F. Argus and S. Stein. 1994. Effect of Recent to The Geomagnetics Reversal Time Scale on Estimates of Current Plate Motions, Revisions Geophysical Research Letter, 21, 2191-2194.

Hamilton, W. 1979. Tectonic of the Indonesian Region. U.S. Geological Survey. Profesional Paper 1078, 345 pp.

McCaffrey, R. and J.I Nabelek.1987. Earthquakes, Gravity and The Origin of The Bali Basin: An Example of A Naschent Continental Fold and Thrust Belt. Journal of Geophysical Research, 92, 441-460.

Silver, E.A., N.A. Breen. and H. Prasetyo. 1986. Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt, Indonesia. Journal of Geophysical Research, Vol. 91, No. B3, pp. 3489

Yasid, M. 1999. Studi Seismotektonik Pulau Bali dan Sekitarnya Berdasarkan Relokasi Hiposenter dan Solusi Bidang Sesar.Tugas Akhir. Program Studi Geofisika, Jurusan Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: