Daryono BMKG

Selalu merasa nyaman hidup di daerah rawan bencana

Posted by Daryono pada Januari 14, 2011

MEMAHAMI BAHAYA BANJIR LAHAR

BANJIR lahar yang menerjang sejumlah sungai yang mengalir ke arah barat Merapi mengakibatkan Jalan Raya Muntilan-Yogyakarta sempat ditutup akibat meluapnya material vulkanik. Beberapa kawasan Muntilan sempat terisolir menyusul banjir lahar yang terjadi pada beberapa sungai yang berhulu di puncak Merapi.

Banjir lahar yang menyapu sejumlah wilayah di Muntilan, Kabupaten Magelang akhir-akhir ini harus diwaspadai, mengingat peluang terjadinya banjir lahar yang lebih besar dapat terjadi akibat curah hujan di atas normal dampak penyimpangan iklim global La Nina yang masih berlangsung hingga sat ini. Untuk itu masyarakat perlu memahami bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh banjir lahar.

Sangat Merusak
Ada beberapa bahaya yang ditimbulkan sebagai dampak banjir lahar yang memiliki sifat merusak. Karakteristik aliran lahar yang melaju cepat dengan tenaga besar ini disebabkan karena Merapi merupakan strato volcano yang memiliki lereng sangat curam. Kombinasi aliran material vulkanik seperti abu gunungapi, kerikil, kerakal, bongkahan batu dengan lereng curam menjadikan aliran banjir lahar juga dikontrol oleh percepatan gaya gravitasi bumi.

Ancaman sekunder lahar Merapi memiliki daya rusak tinggi. Bongkahan batu-batu besar bisa terangkut aliran karena aliran lahar memiliki berat jenis yang sama besar dengan bongkahan batu. Fenomena batu-batu besar yang terbawa banjir lahar ini dapat disaksikan di sepanjang kawasan banjir lahar Kali Putih.

Terangkutnya bongkahan batu oleh aliran lahar ini tentu saja sangat mengancam keberadaan dam dan sabo penahan banjir. Seperti halnya dua Dam Kali Apu di Kecamatan Selo yang kini sudah jebol diterjang banjir lahar, pada hari Minggu (9/1) petang.

Banjir lahar juga memicu tingginya bahaya erosi di sepanjang bantaran sungai yang dilalui banjir lahar. Meningkatnya erosi akibat banjir lahar dapat dijelaskan dengan mudah, dimana derajat kemiringan lereng pegunungan sangat mempengaruhi tegangan permukaan. Akibat kecepatan aliran permukaan yang meningkat ini maka kapasitas daya rusak banjir lahar akan menjadi semakin besar.

Energi yang timbul akibat aliran permukaan akan berubah menurut kuadrat kecepatan nya. Kapasitas pengangkutan butiran material vulkanik akan berubah dengan pangkat 5 dalam waktu dalam satu satuan dimensi. Dengan kata lain jika kecepatan aliran pemukaan menjadi 2 kali lipat, maka jumlah butiran material yang terangkut menjadi 32 kali lebih banyak.

Pada kemiringan lereng curam, mengalirnya banjir lahar ke arah dataran kaki gunung berlangsung sangat cepat. Daya kikis atau daya tumbuk arus banjir lahar terhadap tepi sungai akan semakin kuat sehingga bagian-bagian tanah pada bantaran sungai mengalami cerai berai dan terangkut aliran lahar.

Semakin besar kemiringan lereng maka akan semakin besar bantaran sungai mengalami pengikisan dan erosi. Dampaknya, pada setiap peristiwa banjir lahar ada kecenderungan tepi sungai manjadi semakin lebar, sehingga berdampak kepada rusaknya infrastruktur seperti bangunan rumah di bantaran sungai, selain itu jembatan dapat jebol akibat pondasi jembatan tergerus material lahar.

Karakteristik Material
Banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa banjir lahar Merapi justru terjadi di kawasan sebelah barat Merapi. Salah satu faktor yang menyebabkan dahsyatnya banjir lahar di kawasan barat Merapi adalah karakteristik endapan material vulkanik di sisi barat Merapi yang lebih ringan produk letusan vertikal.

Peristiwa erupsi Merapi tiga bulan yang lalu, menunjukkan bahwa hujan abu akibat semburan material vulkanik letusan Merapi lebih dominan menyebar ke arah barat. Dampak hujan abu hebat ke arah barat ini menyebabkan di kawasan barat Merapi lebih banyak menyimpan material piroklastik ringan seperti abu, pasir dan kerikil.

Lain halnya dengan endapan material di kawasan barat Merapi, maka material endapan piroklastik di selatan Merapi relatif lebih berat. Ini disebabkan karena material erupsi kawasan selatan Merapi lebih banyak dikontrol oleh tumpahan material piroklastik panas yang berukuran lebih besar seperti pasir, kerikil, kerakal dan bongkahan batu-batu besar. Material berat dengan ukuran yang lebih besar ini menyebabkan proses aliran material menjadi relatif lebih lambat seperti halnya material vulkanik yang menumpuk di Kali Gendol.

Material vulkanik yang relatif lebih ringan seperti abu dan pasir yang banyak diendapkan di kawasan barat Merapi memiliki sifat lebih mudah larut dalam aliran air hujan. Saat ini curah hujan di kawanan Merapi cukup tinggi dampak penyimpangan iklim global La Nina yang masih berlangsung hingga sat ini. Sehingga potensi banjir lahar di lereng barat dan barat daya Merapi tetap mengancam daerah aliran Kali Krasak, Kali Putih, Kali Blongkeng, Kali Pabelan, Kali Senowo dan Kali Apu.

Sebagai upaya mitigasi bencana banjir lahar, kepada seluruh warga yang bermukim di bantaran sungai yang berhulu di puncak Merapi dihimbau untuk menjauhi bantaran sungai saat terjadi hujan deras.***


Gambar 1. Kali Putih Kembali Dialiri Lahar Dingin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: